Mengenal Computational Thinking (Berpikir Komputasi) Part 1

Komputer dapat membantu kita menyelesaikan berbagai masalah. Namun, sebelum sebuah masalah dapat diatasi, masalah tersebut harus dipahami terlebih dahulu, termasuk cara-cara yang memungkinkan untuk menyelesaikannya.

Computational Thinking adalah pendekatan yang memungkinkan kita melakukan hal tersebut.

Dengan computational thinking, kita dapat menganalisis sebuah masalah yang kompleks, memahami inti permasalahannya, dan mengembangkan solusi yang mungkin. Solusi ini kemudian dapat disajikan dalam bentuk yang dapat dimengerti oleh komputer, manusia, atau keduanya.

Empat Pilar Computational Thinking

Terdapat empat teknik utama (pilar) dalam computational thinking, yaitu:

  1. Decomposition (Dekompisi)
    Membagi masalah atau sistem yang kompleks menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dikelola.

  2. Pattern Recognition (Pengenalan Pola)
    Mencari kesamaan atau pola di dalam atau di antara berbagai masalah.

  3. Abstraction (Abstraksi)
    Berfokus hanya pada informasi yang penting, dengan mengabaikan detail yang tidak relevan.

  4. Algorithms (Algoritma)
    Mengembangkan langkah-langkah sistematis atau aturan untuk menyelesaikan masalah.

Keempat pilar ini sama pentingnya, seperti kaki pada meja. Jika salah satu kaki hilang, meja kemungkinan besar akan roboh. Menggunakan keempat teknik ini dengan benar sangat membantu, terutama saat memprogram komputer.

Computational Thinking dalam Praktik

Masalah kompleks sering kali tampak sulit diselesaikan pada pandangan pertama. Computational thinking membantu kita menguraikan masalah tersebut menjadi serangkaian masalah kecil yang lebih mudah diatasi (decomposition). Setiap masalah kecil ini kemudian dianalisis, mengacu pada solusi dari masalah serupa sebelumnya (pattern recognition), dengan hanya memperhatikan detail penting dan mengabaikan informasi yang tidak relevan (abstraction). Langkah-langkah sederhana atau aturan untuk menyelesaikan masing-masing masalah kecil ini kemudian dirancang (algorithms).

Langkah-langkah tersebut akhirnya digunakan untuk memprogram komputer agar dapat menyelesaikan masalah secara efisien.

Berpikir Secara Komputasional

Berpikir secara komputasional bukan berarti memprogram, juga bukan berarti berpikir seperti komputer, karena komputer tidak memiliki kemampuan berpikir.

Sederhananya, memprogram adalah memberi tahu komputer apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Sementara itu, computational thinking memungkinkan kita menentukan dengan tepat apa yang harus diberitahukan kepada komputer.

Sebagai contoh, jika Anda berencana bertemu teman di tempat yang belum pernah Anda kunjungi sebelumnya, Anda mungkin akan merencanakan rute terlebih dahulu. Anda akan mempertimbangkan rute yang tersedia dan memilih rute terbaik—mungkin yang tercepat, terpendek, atau yang melewati toko favorit Anda. Proses perencanaan ini adalah computational thinking, sementara mengikuti petunjuknya adalah memprogram.

Kemampuan untuk mengubah masalah kompleks menjadi sesuatu yang lebih mudah dipahami adalah keterampilan yang sangat bermanfaat. Faktanya, ini adalah keterampilan yang sudah Anda miliki dan gunakan setiap hari.

Contoh Penerapan Computational Thinking

1. Merencanakan Aktivitas Bersama Teman
Misalnya, Anda dan teman-teman memiliki kesukaan yang berbeda. Anda perlu mempertimbangkan:

  • Apa yang bisa dilakukan.
  • Tempat yang bisa dikunjungi.
  • Siapa yang ingin melakukan apa.
  • Apa yang pernah dilakukan sebelumnya dan berhasil.
  • Biaya aktivitas tersebut.
  • Kondisi cuaca.
  • Waktu yang tersedia.

Dari informasi ini, Anda dapat memutuskan lebih mudah aktivitas dan lokasi yang akan dipilih, sehingga sebagian besar teman merasa puas. Bahkan, Anda bisa menggunakan komputer untuk mengumpulkan dan menganalisis data agar menghasilkan solusi terbaik untuk saat ini maupun masa depan.

2. Bermain Video Game
Dalam video game, untuk menyelesaikan satu level, Anda perlu memahami:

  • Item yang harus dikumpulkan, cara mendapatkannya, dan batas waktu yang tersedia.
  • Lokasi keluar dan rute terbaik untuk mencapainya dengan cepat.
  • Jenis musuh dan kelemahannya.

Dari informasi tersebut, Anda dapat merancang strategi yang paling efisien untuk menyelesaikan level tersebut. Jika Anda ingin membuat video game sendiri, pertanyaan serupa perlu dijawab sebelum Anda dapat memprogram game tersebut.

Pada contoh di atas, computational thinking diterapkan untuk menyelesaikan masalah kompleks:

  • Masalah kompleks dipecah menjadi beberapa keputusan kecil (decomposition).
  • Hanya informasi relevan yang diperhatikan (abstraction).
  • Pengetahuan dari masalah serupa digunakan (pattern recognition).
  • Langkah-langkah sistematis dirancang untuk menyelesaikan masalah (algorithms).

177 Komentar

  1. Nama: Syahrul
    NPM:2386206092
    kelas: 5D

    izin menanggapi tentang compotational thinking, menurut saya sangat menarik dan gampang untuk di pahami karena bapak memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari seperti merencanakan aktivitas bersama teman dan bermain game, karena itu saya mudah paham bagaimana cara berpikir komputasional dlm situasi nyata

    BalasHapus
  2. Nama: Syahrul
    NPM:2386206092
    kelas:5D

    penjelasan mengenai 4 pilar menurut saya sangat jelas. setiap pilar di jelaskan beserta fungsinya dan membuat saya paham peran tiap pilar dalam memecahkan masalah. penjelasan ini juga membuat saya bahkn pembaca yg lain tau kalau berpikir komputasional tidak selalu tentang teknologi tapi berpikir secara logika

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rosa Lia Ana Rezki
      Npm: 2386206015
      Kelas: 5B pgsd

      Izin menanggapi tanggapan syahrul, Setuju, Syahrul! Poin kamu tentang 'berpikir logis tidak selalu soal teknologi' itu krusial banget. Banyak yang salah sangka kalau computational thinking itu cuma buat coding, padahal di kehidupan sehari-hari kepakai banget ya.
      mendengar bahwa penjelasan mengenai 4 pilar tersebut dapat membantu kamu memahami bahwa berpikir komputasional adalah metode logika yang bisa diterapkan secara luas, bukan sekadar tentang teknologi. Terus pertahankan semangat kritis dan logisnya di kelas 5D!"

      Hapus
  3. Nama:Elisnawatie
    NPM:2386206069
    Kelas:VD

    Ternyata saya sudah menerapkan prinsip decomposition ( pemecahan masalah) dan abstraction ya pak ketika saya ingin memasak nasi goreng, saya tidak langsung mencampur semua bahan begitu saja. Saya mulai dengan membagi kegiatan memasak menjadi beberapa langkah kecil, seperti menyiapkan bahan, memotong bumbu, menyalakan kompor, menumis, lalu mencampur nasi. Langkah-langkah kecil itu membantu saya agar tidak bingung dan hasil masakan bisa sesuai dengan yang saya inginkan. Saya juga memperhatikan bahan mana yang benar-benar penting dan mana yang bisa diabaikan, seperti tidak perlu menambah bahan yang tidak tersedia di rumah

    BalasHapus
  4. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
    Npm : 2386206058
    Kelas : VB PGSD

    Izin menanggapi pak, menurut saya mengenai materi di atas ini sangat bagus pak apalagi dengan adanya 4 pilar computational thingking ini karena sangat membantu kita terutama terkait pemrograman komputer. Karena yang kita tau juga sesuatu yang mengarah pada komputer ini sangat susah dengan adanya 4 pilar ini sangat membantu kita untuk memahami bahwa materi di atas bukan hanya konsep tetapi juga mengajar kan kita untuk cara berpikir yang baik dan kritis yang di mana bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rosa Lia Ana Rezki
      Npm: 2386206015
      Kelas: 5B pgsd

      Izin menanggapi tanggapan isdiana, Saya sangat mengapresiasi poin yang kamu sampaikan mengenai bagaimana 4 pilar computational thinking (CT) membantu menyederhanakan sesuatu yang terlihat sulit, seperti pemrograman, menjadi lebih mudah dipahami.
      cara berpikir' dan bukan sekadar teknologi sangatlah krusial. Nantinya, kamu bisa menerapkan 4 pilar ini di kelas sekolah dasar untuk membantu siswa:
      1.Dekomposisi: Mengajarkan siswa memecah tugas besar menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dikerjakan.
      2.Pengenalan Pola: Membantu siswa melihat kesamaan dalam masalah agar bisa diselesaikan dengan cara yang pernah berhasil sebelumnya.
      3.Abstraksi: Melatih siswa fokus pada informasi yang penting saja dan mengabaikan detail yang tidak relevan.
      4.Algoritma: Menyusun langkah-langkah logis untuk menyelesaikan sebuah tugas atau permainan.

      Penerapan CT dalam kehidupan sehari-hari yang kamu sebutkan adalah kunci agar pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa. Teruslah mengasah semangat berpikir kritis ini sebagai bekal menjadi pendidik yang inspiratif!.

      Hapus
  5. Nama : Oktavia Ramadani
    Npm : 2386206086
    Kelas : 5D

    Izin menanggapi pak , ternyata berpikir komputasi ini memang bukan sekedar soal pemrograman saja tetapi tentang cara siswa berpikir logis dan berpikir kritis untuk memecahkan masalah , melalui empat pilar utamanya yaitu dekomposisi , pengenalan pola , abstraksi dan algoritma ini membantu untuk menyederhanakan masalah kompleks menjadi langkah - langkah yang lebih mudah dipahami dan di selesaikan , penjelasannya bisa melalui kehidupan sehari-hari seperti merencanakan kegiatan dan bermain game juga membuat konsep ini terasa praktis .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama:Elisnawatie
      Kelas:5D
      NPM:2386206069

      Wah Saya sangat setuju dengan penyampaian Oktavia. Memang benar bahwa berpikir komputasi bukan hanya soal belajar pemrograman, tetapi lebih pada bagaimana siswa bisa mengembangkan kemampuan berpikir logis dan kritis untuk memecahkan masalah. Dengan memahami empat pilar utamanya dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma—siswa diajak untuk menyederhanakan masalah yang kompleks menjadi langkah-langkah yang lebih mudah dipahami dan diselesaikan. Selain itu, penerapan berpikir komputasi bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat merencanakan kegiatan, bermain game, atau memecahkan persoalan kecil sehari-hari, sehingga konsep ini tidak hanya teori, tapi juga sangat praktis dan relevan bagi perkembangan kemampuan berpikir anak.

      Hapus
  6. izin menanggapi terkait materi Computational Thinking 1, materi ini menurut saya sangat berguna diterapkan pada dunia pendidikan, dengan 4 pilar yang luar biasa seperti dekomposisi yang bisa memecahkan masalah menjadi bagian-bagian kecil, lalu setelah memecahkan masalah menjadi bagian-bagian kecil langkah selanjutanya menganlisis masalah tersebut dengan sebutaan pilar ke-2 yaitu pengenalan pola, selanjutnya dengan pilar 3 yaitu abstraksi yang mampu menelaah informasi yang penting dalam menyelesaikan masalah dan membuang informasi yang tidak relevan, dan yang terakhir menerapkan pilar ke-4 yaitu abstraksi yang berguna untuk merancang aturan atau menentukan langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah dan setelah itu dirancang.

    BalasHapus
  7. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
    Npm : 2386206058
    Kelas : VB PGSD

    Baik Pak saya izin bertanya terkait materi di atas, Apakah penerapan computational thinking ini harus selalu berhubungan dengan pemrograman, atau dapat sepenuhnya diterapkan dalam aktivitas sehari-hari, tetapi hanya melalui penyusunan algoritmanya tanpa perlu menulis bahasa pemrogramannya pak🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Andi Nurfika
      NPM : 2386206017
      Kelas : VB PGSD

      Saya bantu jawab sedikit ya Isti jadi komputasional thinking ini ndak harus selalu berhubungan dengan pemrograman jadi berpikir komputasional itu intinya cara kita memecahkan masalah secara logis dan teratur bukan cuma soal nulis kode. Jadi tanpa nulis satu baris kode pun kita sudah bisa menerapkan cara berpikir komputasional dalam kehidupan sehari-hari kita pemrograman memang bisa membantu melatih itu tapi inti dari berpikir komputasional tetap bisa dipraktikkan di dunia nyata dengan cara yang lebih sederhana. Semoga bermanfaat 🙏🏻

      Hapus
    2. Nama:Elisnawatie
      NPM:2386206069
      Kelas:5D

      haloo isdiana saya bantu jawab yaa Penerapan computational thinking tidak harus selalu berkaitan dengan pemrograman. Sebenarnya, inti dari computational thinking adalah cara berpikir logis dan sistematis untuk memecahkan masalah. Jadi, kita bisa menerapkannya dalam aktivitas sehari-hari, misalnya merencanakan jadwal harian, menyiapkan resep masakan, atau menyusun strategi saat bermain game. Dalam kasus ini, kita cukup menyusun langkah-langkah atau algoritma untuk menyelesaikan masalah, tanpa harus menulis kode pemrograman. Jadi, computational thinking lebih menekankan pada cara berpikir dan menyusun solusi secara terstruktur, yang tetap bisa dipraktikkan di kehidupan sehari-hari.

      Hapus
    3. Nama:Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD

      Izin menjawab pertanyaan dari Isdiana Susilowati Ibrahim, Menurut sepengetahuan yang saya ketahui itu tidaklah harus ada berhubungan dengan pemrograman Computational Thinking itu biasanya sepenuhnya/seluruhnya di terapkan di dalam suatu aktivitas sehari-hari tanpa harus menulis sebuah kode apa pun itu. Yang terpenting itu ialah prosesnya dari pemecahan dari suatu masalahnya, lalu mengenali sebuah pola, dan juga dapat menyusun suatu langkah-langkah algoritma. Intinya ya itu programming hanyalah dari salah satu penerapannya saja, bukanlah sebuah syarat utamanya.

      Hapus
    4. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Isdiana, nggak harus selalu lewat pemrograman kok, CT bisa banget diterapkan dalam aktivitas sehari-hari hanya dengan menyusun langkah atau algoritmanya saja. Intinya CT itu soal cara berpikir terstruktur: memecah masalah, melihat pola, menyederhanakan, dan menyusun langkah solusi. Jadi mau itu bikin program, nyusun resep, ngerjain tugas, atau ngatur strategi belajar, semuanya bisa pakai CT tanpa perlu nulis satu baris kode pun.

      Hapus
    5. Nama: Rosa Lia Ana Rezki
      Npm: 2386206015
      Kelas: 5B pgsd

      Izin menjawab pertanyaan isdiana, tidak harus. Computational thinking (CT) sama sekali tidak terbatas pada dunia pemrograman atau penulisan kode komputer saja.
      CT sebenarnya adalah metode penyelesaian masalah (problem-solving) yang bisa diterapkan sepenuhnya dalam aktivitas sehari-hari tanpa menyentuh bahasa pemrograman sama sekali. Berikut adalah penjelasan detailnya:
      1.Penyusunan Algoritma Tanpa Kode: Seperti yang kamu duga, kita bisa menerapkan algoritma hanya dengan menyusun langkah-langkah logis. Contohnya, saat kamu merancang langkah-langkah mengajarkan membaca kepada siswa SD, kamu sedang menyusun algoritma pembelajaran. Tidak ada bahasa pemrograman di sana, tapi ada logika sistematis.
      2.CT sebagai 'Pola Pikir' (Mental Model): Fokus utama CT adalah bagaimana manusia berpikir untuk memecahkan masalah, bukan bagaimana komputer bekerja. Kita menggunakan dekomposisi untuk membagi tugas kuliah yang menumpuk, atau menggunakan pengenalan pola untuk memprediksi cuaca berdasarkan kondisi awan.
      3.Unplugged CT: Dalam dunia pendidikan, ada istilah 'Unplugged Computational Thinking', yaitu mengajarkan konsep CT kepada siswa melalui permainan fisik, kartu, atau kegiatan luar ruangan tanpa menggunakan komputer sama sekali. Ini sangat relevan untuk kamu terapkan di sekolah dasar nanti.

      Jadi, kamu bisa sangat ahli dalam computational thinking dan menerapkannya untuk menjadi guru yang kritis dan terorganisir tanpa harus pernah menulis satu baris kode pemrograman pun. Intinya adalah pada proses bernalar yang efektif. Semangat terus eksplorasinya!"

      Hapus
  8. Nama : Andi Nurfika
    NPM : 2386206017
    Kelas : VB PGSD

    Izin menanggapi bapak jadi materi di atas sangat tepat karena berpikir komputasional merupakan kemampuan dasar yang penting dalam menghadapi berbagai persoalan di era digital ini. Sebelum menggunakan komputer kita harus bisa menyelesaikan masalah itu sendiri yang paling utama adalah kita harus mengerti dengan komputer dan harus memahami masalah secara menyeluruh. Poin dekomposisi ini dapat membantu kita menyelesaikan masalah besar menjadi bagian-bagian kecil agar lebih mudah untuk ditangani. Pengenalan pola juga membuat kita bisa menemukan kesamaan yang dapat mempercepat proses pemecahan masalah. Abstrak mengajarkan kita untuk lebih fokus pada hal yang penting dan mengabaikan atau tidak memperdulikan informasi yang tidak benar. Sementara itu algoritma dapat memberi langkah-langkah agar solusi dapat dijadikan dengan tepat. Dengan menguasai empat pilar di atas seseorang dapat berpikir logis terstruktur dan lebih kreatif karena berpikir komputasional bukan hanya untuk ilmu komputer saja tetapi juga dapat berguna dalam kehidupan kita sehari-hari.

    BalasHapus
  9. Nama : Andi Nurfika
    NPM : 2386206017
    Kelas : VB PGSD

    Baik bisa kita lihat lagi bahwa 4 pilar berpikir komputasional yang disebutkan di atas sangat-sangat relevan dalam pembelajaran abad ke-21 dekomposisi membantu siswa belajar untuk menganalisis masalah dengan cara membaginya menjadi kecil. Pengenalan pola juga dapat melatih kemampuan siswa dalam melihat hubungan dan kemiripan antara situasi lain dan lainnya abstrak juga melatih cara berpikir kritis siswa agar siswa fokus pada inti masalah bukan hal-hal yang tidak penting. Algoritma kemudian memberikan arah langkah demi langkah untuk mencari solusi yang tepat dengan ini berpikir konvensional siswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi semata tapi juga menjadi pemecah masalah yang bisa dilakukan secara mandiri selain itu juga kemampuan ini memperkuat logika dan kreativitas siswa dalam mengambil keputusan maka dari itu berpikir komputasional penting diajarkan sejak dini agar mereka siap menghadapi tantangan digital di masa depan yang lebih maju lagi.

    BalasHapus
  10. Nama: Zakky Setiawan
    NPM: ( 2386206066 )
    Kelas: 5C
    Ternyata selama ini saya secara tidak sadar telah berpikir secara komputasi, karena untuk menentukan aktivitas bersama teman itu saya pikir terlebih dahulu untuk kepuasan diri saya, seperti merencanakan tempat yang dikunjungi, dari hal tersebut saya akan memikirkan apakah di tempat itu bisa membuat saya puas dari segi lingkungan yang nyaman atau tidak

    BalasHapus
    Balasan
    1. nama : bangkit dwi prasetyo
      kelas : 5b
      npm : 2386206044

      Hai zakky aku setuju dengan pendapatmu sangat bagus. Saya setuju kalau sebenarnya banyak siswa sudah memakai pola pikir komputasi dalam kegiatan sehari-hari, cuma mereka kadang tidak menyadari prosesnya. Seperti saat mereka harus menyusun langkah, mengambil keputusan, atau mencari cara paling cepat agar tugas selesai itu sudah termasuk berpikir runtut.
      Menurut saya, peran guru memang penting untuk membantu siswa menyadari pola pikir tersebut supaya mereka terbiasa berpikir lebih terarah. Jadi benar bahwa computational thinking tidak selalu butuh komputer, tapi lebih ke cara berpikirnya.

      Hapus
  11. Nama: Zakky Setiawan
    NPM: ( 2386206066 )
    Kelas: 5C
    Berpikir Komputasi bisa di ajarkan ke peserta didik untuk mengatur waktu mereka juga ya tenyata, ambil contoh jika seorang peserta didik ingin kerja kelompok dengan temannya tapi kondisi cuaca tidak memungkinkan, peserta didik harus bisa berpikir untuk kepuasan dirinya sendiri dulu, jika peserta didik memaksa dia akan sakit karena menerobos banjir, jika tidak memaksa mungkin bisa di kerjakan di hari esok sebelum hari pengumpulan tiba, peserta didik harus punya pemikiran tersebut

    BalasHapus
    Balasan
    1. nama : bangkit dwi prasetyo
      kelas : 5b
      npm : 2386206044

      betul banget zakky, Saya sependapat bahwa siswa memang perlu diarahkan dalam mengatur waktu dan menyelesaikan tugas agar tidak terburu-buru. Cara seperti itu bisa melatih mereka berpikir terencana dan bertanggung jawab.
      Saya juga setuju soal tidak memaksakan siswa ketika mereka sedang sakit atau tidak fit. Pembelajaran tetap harus mempertimbangkan kondisi peserta didik, supaya proses belajarnya bisa berjalan nyaman dan efektif. Pendapatmu membantu mengingatkan kita bahwa computational thinking juga berkaitan dengan kemampuan mengatur diri.

      Hapus
    2. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

      Whats Broo Kittun end Bro Zky:v

      Aku setuju banget sama mu Kittun! Komennya ngena banget sama realita kita sebagai mahasiswa. Siapa coba yang nggak pernah benar-benar mikirin langkah-langkah paling efisien buat menyelesaikan tugas biar bisa lebih cepet hiling atau nongkrong? (Wkwkwk.. ayok susah kita hiling, wacana trus bah kau nih, broo...)

      Kembali ketopik, Jadi langkah cepat yang kita ambil untuk menyelesaikan tugas agar bisa cepetan hilinh Itu tuhh.. udah nunjukkin kalo kita tuh sebenernya udah pakai computational thinking (CT) secara default, cuma kadang nggak sadar aja sama istilah akademiknya, iyyakan Broo..?

      Nah... Jadi sebenarnya tuh.. CT bukan cuma soal coding di depan komputer, tapi lebih ke mindset buat problem-solving secara terstruktur, kan? Kita harus bisa menguraikan kegiatan sehari-hari, kayak step-by-step milih menu makanan sehat (Decomposition), atau nentuin rute tercepat ke sekolah (Algoritma). Intinya, gimana caranya kita sebagai guru (masih calon sih) menunjukkan ke anak didik kita kalo skill kayak pengenalan pola dan abstraksi itu benar-benar bisa digunakan untuk apa saja! Kesadaran inilah yang bikin pola pikir mereka jadi lebih terarah, sesuai sama yang Broo Kittun bilang, eyye kan Bro Zky?

      Hapus
  12. Nama: Stevani
    NPM: (2386206045)
    Kelas: V C PGSD
    Finally sampai sini, berfikir komputasi di santiaji plp kemarin saya sudah mendengarkan materinya secara langsung Dari buyaadin dan yap dia abad 21ini Berpikir komputasi bukan cuma tentang coding atau komputer tapi lebih pada cara menyelesaikan masalah secara sistematis, memecah masalah besar menjadi lebih kecil, mengenali pola, dan berpikir logis anti anti percaya tentang hantu atau tahayul

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi saya juga bertanya-tanya, bagaimana cara mengajarkan berpikir komputasi pada siswa yang belum terbiasa berpikir logis atau sistematis?dan juga strategi apa yang paling efektif untuk mulai melatih keterampilan ini sejak dini?? kemarin dijelaskan tapi saya lupa

      Hapus
    2. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Npm : 2386206058
      Kelas : VB PGSD

      Halo stevani izin menjawab pertanyaan nya yh. Menurut aku cara berpikir komputasi bisa diajarkan kepada siswa dengan cara melatih mereka menyelesaikan masalah langkah demi langkah. Dimana guru dapat memberi contoh dari kegiatan sehari-hari agar siswa lebih mudah memahami, contohnya saat merencanakan sesuatu atau mencari cara paling cepat untuk menyelesaikan tugas. Dalam berpikir komputasi ada empat hal penting yang perlu dilatih seperti yang sudah tertera di materi. Strategi yang dapat digunakan adalah dengan membiasakan siswa berpikir logis melalui kegiatan yang menarik, seperti permainan, proyek kelompok, atau pemecahan masalah nyata di kelas. Dengan latihan seperti ini, siswa akan terbiasa berpikir sistematis, kreatif, dan mampu menemukan solusi dengan cara mereka sendiri🙏🏻

      Hapus
    3. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      Ijin menjawab pertanyaan dari stevani.
      menurut saya, mengajarkan berpikir komputasi pada siswa yang belum terbiasa berpikir logis tidak harus langsung dengan konsep yang rumit. justru yang penting adalah memulai dari aktivitas sederhana dan dekat dengan kehidupan mereka. misalnya melalui permainan, kegiatan mengurutkan langkah, atau memecahkan masalah kecil bersama. dengan cara itu, siswa bisa belajar berpikir sistematis tanpa merasa terbebani.

      Hapus
    4. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      Ijin menambahkan lagi.
      strategi yang paling efektif menurut saya adalah mulai dari pengalaman nyata, kemudian secara perlahan mengenalkan konsep seperti memecahkan masalah, mencari pola, dan membuat langkah-langkah. jadi fokusnya bukan pada teori dulu, tetapi memberi ruang latihan dan kesempatan mencoba, supaya mereka merasa percaya diri dulu. kalau suasananya positif dan siswa merasa aman untuk salah, keterampilan berpikir komputasi akan berkembang secara bertahap.

      Hapus
    5. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

      Perkenalkan saya Fauzan Nashrullah Fajar NPM.2386206021 kelas 5B PGSD.

      Bener banget.. Ratna!! menekankan aktivitas sederhana, sequencing (mengurutkan langkah), dan memecahkan masalah kecil bersama. Ini nihh... Cocok banget dengan pilar Algoritma dan Decomposition di materi di atas..

      Tapi ada satu permasalahan yang membuat saya bertanya-tanya, ini tentang Abstraction (Abstraksi). Sebagai calon guru PGSD, tantangan kita tuh bukan cuma menyuruh anak mengurutkan langkahnya.. tapi juga membiasakan mereka fokus pada informasi penting dan mengabaikan detail yang nggak relevan. Misalnya, saat anak merencanakan aktivitas (seperti contoh di materi), mereka harus bisa mengabaikan hal-hal yang nggak penting dan fokus pada tujuan. Bagaimana ya cara kita bikin anak SD yang suka banget dengan detail kecil, jadi terbiasa melakukan Abstraksi tanpa merasa kehilangan kesenangan dalam belajar? 🤔

      Hapus
    6. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Stevani, jadi menurut saya, cara ngajarin berpikir komputasi ke siswa yang belum terbiasa berpikir logis bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat sama kehidupan mereka, misalnya main game yang butuh urutan langkah, nyusun puzzle, atau kegiatan “urutkan dulu sebelum dikerjakan”. Guru bisa pakai aktivitas tanpa komputer (unplugged), kayak minta siswa bikin algoritma sederhana untuk membuat roti atau menggambar bentuk dengan instruksi langkah demi langkah. Strategi yang paling efektif sejak dini adalah membiasakan mereka memecah masalah jadi bagian kecil, latihan cari pola, dan sering ngajak mereka jelasin langkah berpikirnya sendiri supaya pola berpikirnya makin teratur tanpa terasa berat.

      Hapus
    7. Nama: Rosa Lia Ana Rezki
      Npm: 2386206015
      Kelas: 5B pgsd

      Izin menjawab pertanyaan stevani, jadi menurut pandangan saya, Mengajarkan berpikir komputasional (CT) kepada siswa yang belum terbiasa berpikir sistematis memang memerlukan pendekatan bertahap.
      Berikut adalah beberapa strategi paling efektif untuk melatih keterampilan ini sejak dini:

      1. Gunakan Pendekatan Unplugged (Tanpa Komputer) Strategi paling efektif untuk pemula adalah menjauhkan mereka dari layar terlebih dahulu. Gunakan benda konkret atau aktivitas fisik.
      Contoh: Meminta siswa menyusun langkah-langkah (algoritma) untuk membuat roti selai atau mengikat tali sepatu. Jika langkahnya tertukar, mereka akan melihat hasilnya 'error' secara nyata.

      2. Belajar Melalui Permainan (Gamification) Siswa yang belum terbiasa berpikir logis akan lebih mudah menyerap konsep jika dibungkus dalam permainan.
      Contoh: Permainan 'Robot dan Programmer'. Satu siswa menjadi robot yang hanya bisa bergerak sesuai instruksi spesifik (maju 2 langkah, belok kanan), dan siswa lain harus memberikan instruksi yang tepat agar robot sampai ke tujuan tanpa menabrak hambatan.

      3. Teknik 'Dekomposisi' dalam Cerita Gunakan cerita atau dongeng untuk melatih kemampuan memecah masalah.
      Contoh: Saat membaca cerita, minta siswa membagi alur cerita menjadi bagian awal, tengah, dan akhir, atau mengidentifikasi masalah utama dan bagaimana karakter tersebut memecahnya menjadi langkah-langkah kecil.

      4. Visualisasi dengan Flowchart Sederhana Untuk melatih berpikir sistematis, ajak siswa menggambar alur aktivitas mereka menggunakan gambar atau simbol sederhana. Ini membantu mereka memvisualisasikan urutan logika sebelum masuk ke hal yang lebih abstrak.

      Strategi Kunci: Mulailah dari hal yang paling dekat dengan keseharian mereka. Jangan sebut ini sebagai 'pelajaran komputer', tapi sebutlah sebagai 'permainan memecahkan teka-teki'. Konsistensi dalam membiasakan mereka bertanya 'Mengapa?' dan 'Bagaimana urutannya?' adalah fondasi utama berpikir logis.

      Hapus
  13. Nama:Elisnawatie
    Kelas:VD
    NPM:3386206069

    Ternyata selama ini saya secara tidak sadar telah berpikir secara komputasi, karena ketika saya ingin membeli suatu barang, saya selalu mempertimbangkan berbagai hal terlebih dahulu, seperti membandingkan harga, kualitas, dan manfaatnya. Dari situ saya akan memikirkan apakah barang tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan bisa memberikan kepuasan bagi saya atau tidak.

    BalasHapus
  14. Nama : Nabilah Aqli Rahman
    NPM : 2386206125
    Kelas : 5D PGSD

    Saya baru pertama kali kenal sama istilah computational thinking ini, dan rasanya kaya nemu kunci baru buat memahami cara berpikir yang lebih rapi dan kreatif 😃.

    Ternyata ini bukan soal komputer yaa, tapi soal gimana kita menyelesaikan masalah dengan langkah-langkah yang jelas dan masuk akal.

    BalasHapus
  15. Nama : Nabilah Aqli Rahman
    NPM : 2386206125
    Kelas : 5D PGSD

    Setelah berkenalan dengan computational thinking ini saya jadi punya sudut pandang baru dalam melihat proses belajar, terutama untuk anak-anak.

    Empat pilar yang dibahas di artikel ini bukan sekedar teori, tapi bisa banget diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ini benar-benar ilmu yang kelihatannya sederhana, tapi berdampak besar!

    BalasHapus
  16. Nama : Aprilina Awing
    Kelas : 5D PGSD
    NPM : 2386206113

    Materi ini menjelaskan betapa pentingnya berpikir secara komputasional dalam menyelesaikan masalah. Dengan computational thinking, kita bisa memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dihadapi. Misalnya, saat kita merencanakan aktivitas dengan teman-teman, kita perlu mempertimbangkan banyak hal, seperti pilihan tempat, biaya, dan waktu. Ini mirip dengan bagaimana kita bermain video game, di mana kita harus mengumpulkan informasi dan merancang strategi untuk berhasil. Jadi, sebenarnya, kita sudah sering menggunakan prinsip-prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari.

    BalasHapus
  17. Nama : Aprilina Awing
    Kelas : 5D PGSD
    NPM : 2386206113

    Ijin bertanya pak,
    Apakah ada contoh lain di luar aktivitas sosial atau video game di mana kita dapat merasa menggunakan prinsip computational thinking?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Npm : 2386206058
      Kelas : VB PGSD

      Izin menjawab yh Aprilina Awing, menurut aku ya pasti ada prinsip ini dapat kita temui dalam. Kehidupan sehari-hari contohnya memasak dimana secara tidak sadar kita sudah menerapkan langkah- langakh yang teratur. Seperti menyiapkan bahannya, mengatur urutan memasak, dan memperkirakan waktu, dimana itu menunjukkan kita menggunakan cara berpikir sistematis seperti algoritma dan dekomposisi, karena masalah besar (memasak) dipecah menjadi beberapa langkah kecil. Jadi, berpikir komputasi tidak hanya digunakan dalam hal yang berhubungan dengan komputer atau game, tetapi juga sangat berguna dalam mengatur kehidupan sehari-hari agar lebih terarah dan efisien🙏🏻

      Hapus
    2. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD

      Izin menjawab pertanyaan dari Aprilina Awing, menurut sepengetahuan saya pastilah ada awing nih contohnya seperti kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari kita yaitu seperti memasak sebuah resep yang baru saja kita temui yaitu lalu kita menyiapkan bahan-bahayanya masakan itu merupakan decompostion, lalu melihat sebuah pola resep dari resep lain, dan lalu berfokus pada sebuah langkah penting, setelah itu mengikuti urutan dari masakannya itu ialah algoritma. Lalu contoh lainnya seperti kita menghemat uang bulanannya yaitu memecahkan pengeluaran, mengenali pola borosnya, dan menyusun strategi aturan penghematannya.

      Hapus
    3. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:238626024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Aprilina Awing, jadi menurut saya, ada banyak contoh lain di luar aktivitas sosial atau video game yang bikin kita sebenarnya lagi pakai prinsip computational thinking, misalnya saat masak dan harus ngurut langkahnya biar hasilnya pas, saat merencanakan rute perjalanan paling cepat, saat menyortir barang kamar biar lebih rapi, atau saat memecahkan teka-teki seperti puzzle dan sudoku. Semua kegiatan itu melibatkan cara berpikir terstruktur, memecah masalah jadi bagian kecil, melihat pola, dan memilih langkah paling efisien walaupun kita jarang sadar kalau itu sebenarnya “ngoding versi kehidupan sehari-hari.”

      Hapus
    4. Nama: Rosa Lia Ana Rezki
      Npm: 2386206015
      Kelas: 5B pgsd

      Izin menanggapi tanggapan aprilina awing, jadi menurut saya Prinsip computational thinking sebenarnya ada di mana-mana dalam kehidupan kita, bahkan pada hal-hal yang sering kita anggap sepele.
      Berikut adalah beberapa contoh konkret di mana kita tanpa sadar menggunakan prinsip CT dalam kehidupan sehari-hari:
      1. Memasak Makanan Kompleks (Algoritma & Dekomposisi) Saat kamu memasak menu baru, kamu memecah tugas besar menjadi langkah-langkah kecil (Dekomposisi), seperti memotong sayur, menyiapkan bumbu, dan memanaskan minyak. Urutan memasak yang kamu ikuti dari resep adalah sebuah Algoritma. Jika urutannya salah, rasa makanannya bisa berubah.

      2. Merencanakan Rute Perjalanan (Abstraksi & Pengenalan Pola) Saat ingin pergi ke suatu tempat, kamu melakukan Abstraksi dengan hanya melihat peta jalan utama dan mengabaikan detail yang tidak penting seperti warna cat rumah di pinggir jalan. Kamu juga menggunakan Pengenalan Pola jika memilih lewat jalan tertentu karena tahu jam-jam tersebut biasanya macet berdasarkan pengalaman sebelumnya.

      3. Mencuci Pakaian (Dekomposisi & Pengenalan Pola) Sebelum mencuci, kamu biasanya memisahkan pakaian berdasarkan warna atau jenis bahan agar tidak luntur (Dekomposisi). Kamu melakukan ini karena sudah mengenali Pola bahwa pakaian putih akan rusak jika dicampur dengan pakaian berwarna yang baru dibeli.

      4. Membereskan Kamar atau Lemari (Abstraksi & Algoritma) Saat merapikan buku, kamu mungkin mengelompokkannya berdasarkan ukuran atau subjek agar mudah dicari nantinya (Abstraksi). Proses menyusunnya dari rak paling bawah ke atas agar tidak rubuh adalah penerapan Algoritma kerja yang efisien.

      Intinya: Setiap kali kita mencoba memecahkan masalah secara teratur, mencari cara tercepat, atau menyederhanakan tugas yang sulit, kita sedang menggunakan computational thinking.

      Hapus
  18. Nama: Nur Aulia Miftahul Jannah
    NPM: 2386206085
    Kelas: 5D PGSD

    Wow wow wooow, keren keren.. Sebelumnya saya udah pernah denger dan ga asing di telinga untuk topik ini. Tapi saya paham materinya itu dengan pemahaman yang agak berat karna waktu itu pernah coba baca jurnal tentang ini (bahasanya kaya lebih berat gitu). Eh pas bapak bikin materi ini dan kemudian saya membacanya, ternyata topiknya jadi kelihatan sangat sederhana dan mudah dipahami. Ihhh, Allah keren bangeet yaaa??? Kita punya kemampuan untuk memprogram kayak komputer loh. Komputer yang kita pake sehari hari itu tapi kita ga ngerti dalemnya apa. Ternyata secara ga sadar kita selalu bikin sistem itu di kepala kita.. Luar biasaaaa


    (54)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Nur Aulia Miftahul Jannah
      NPM: 2386206085
      Kelas: 5D PGSD

      Emmm tapi pak.. Di dalam otak kita kan punya sistem berpikir secara komputusai ini pak yang secara ga sadar sering kita pake. Emm, terus tadi contoh yang nyatanya banget itu kan kalau kita lagi main game tuh. Nah, berarti anak anak kecil pun udah punya cara berpikir ini dong berarti? Woooowww (ternganga dalam sepi).. Emm, saya jadi mikir, awal mula terciptanya berpikir komputasi di dalam kepala manusia itu dari mana yah? (maksud jawabannya bukan dari Allah yang Maha Mencipta ya tapi lebih ke jawaban sains nyaa).. Eh eh eh.. kan bapak ngajar matematika ya, emm berarti ada kaitannya sama matematika kan pak? Emm kayaknya iyaa.. kan MTK tu bikin kita mikir secara logis.. hmmm :/ :/

      Hapus
    2. Nama: Nur Aulia Miftahul Jannah
      NPM: 2386206085
      Kelas: 5D PGSD

      Tapi kayak nya emang iya sih asal muasalnya CT ini dari pelajaran matematika. Soalnya, waktu anak masih toddler tu kita mulai ngajarin hal hal yang ngasah mereka mikir keterkaitan hal. Terus nanti setelah mereka mikir keterkaitan hal lanjut ke penyelesaian masalah sederhana. Nah hal hal kayak gini ni sebenernya konsepnya itu ada di pelajaran MTK. Coba perhatiin deh soal soal MTK, MTK tu selalu ngasih soal yang harus melakukan pemecahan masalah dengan urut. Terus cara berpikir waktu belajar MTK juga harus yang mirip mirip kayak CT ini.

      (56)

      Hapus
    3. Nama: Nur Aulia Miftahul Jannah
      NPM: 2386206085
      Kelas: 5D PGSD

      Emm, kan kita jadinya udah tau nih kalau CT itu sering banget jadi sistem berpikir kita sehari hari. Contoh dari CT nya juga ada yang dari hal yang luar biasa sederhana banget kayak main game atau nentuin mau pergi jalan kemana. Nah dari semua yang kita tau tentang CT ini sekarang bahwa dia deket banget ama kita. Sebenernya, untuk CT ini ada tingkatannya gasih pak? Kayak level gitu? Jadi CT nya kayak punya tingkat atau level untuk mengkategorikan cara bepikir nya sampe tingkat yang mana. Kok saya ngerasanya ada ya.. Em atau gaada ya pak? Karna sesederhana milih menu ice cream aja sebnernya udah bisa dikategorikan CT, nah apalagi yang kaya orang orang tu berpikir keras atau kritis terhadap suatu hal yang kesulitannya tinggi.



      (57)

      Hapus
  19. Nama:bella ayu pusdita
    Kelas:5d
    Nim:2386206114
    Materi ini menyajikan pengantar yang sangat jelas dan mendasar mengenai Computational Thinking (CT). Dengan berfokus pada empat pilar utamanya—Dekomposisi, Pengenalan Pola, Abstraksi, dan Algoritma—artikel ini berhasil demistifikasi CT dari sekadar urusan komputer menjadi pendekatan pemecahan masalah yang relevan dalam kehidupan sehari-hari.

    BalasHapus
  20. Nama:bella ayu pusdita
    Kelas:5d
    Nim:2386206114
    Izin menanggapi lagi pak dari materi diatas yang saya baca dan saya pahami sedikit”terkait materi tersebut saya menanggapi bahwa
    Menggunakan Latihan Pemecahan Masalah Harian Berbasis 4 Pilar. Merancang aktivitas di mana siswa harus secara eksplisit mengidentifikasi Dekomposisi, Pengenalan Pola, Abstraksi, dan Algoritma yang mereka gunakan dalam memecahkan tugas (misalnya, merencanakan pesta kelas).
    Memodelkan Proses CT dengan Think Aloud. Guru memodelkan proses perencanaan (mirip contoh merencanakan rute) dengan keras, menjelaskan: "Masalahnya besar (Dekomposisi), kita lihat apa yang berhasil minggu lalu (Pengenalan Pola), dan kita abaikan warna baju (Abstraksi). Lalu kita buat daftar langkah 1, 2, 3... (Algoritma)."
    Mengevaluasi Rencana dan Algoritma Siswa. Observasi berfokus pada bagaimana siswa memecah masalah menjadi langkah-langkah kecil (Dekomposisi) dan sejauh mana Algoritma yang mereka buat logis, sistematis, dan efisien.
    Komitmen untuk Membangun Pola Pikir CT Lintas Kurikulum. Guru berkomitmen untuk secara konsisten menggunakan istilah dan kerangka 4 pilar CT dalam setiap mata pelajaran, sehingga siswa menyadari bahwa keterampilan ini adalah alat universal, bukan hanya untuk kelas TIK.

    BalasHapus
  21. Nama: Nanda Vika Sari
    Npm: 2386206053
    Kelas: 5B PGSD

    Setelah saya membaca materi ini, menurut saya materi ini sangat jelas dan menarik sebab pada materi ini memberitahukan konsep computational thinking secara sederhana dan praktis. Empat pilarnya membantu siswa dalam saat memecahkan masalah, tidak hanya dalam pemrograman tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

    BalasHapus
  22. Nama: Margaretha Elintia
    kelas: 5C PGSD
    NPM: 2386206055

    saya izin bertanya pak, apakah berpikir computational itu hanya berarti membuat daftar langkah-langkah jelas atau wajib menggunakan semua cara lain juga pak?, seperti memecah masalah besar jadi kecil, mencari pola, dan membuang detail yang tidak penting?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      Ijin menanggapi pertanyaan dari margaretha elintia.
      menurut saya, computational thinking tidak selalu harus menggunakan semua langkah sekaligus. intinya bukan cuma membuat daftar langkah-langkah yang jelas, tapi memilih strategi yang paling cocok untuk menyelesaikan masalah. kadang cukup dengan memecah masalah jadi bagian kecil, atau hanya mencari pola saja sudah efektif. jadi CT itu fleksibel, bukan aturan kaku, tetapi cara berpikir yang bisa disesuikan dengan situasi.

      Hapus
    2. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD

      Izin menjawab pertanyaan dari Margaretha Elintia, menurut sepengetahuan yang saya ketahui itu tidak harus Margaretha berpikir komputasional itu bukanlah berupa membuat suatu daftar langkah-langkah atau sebuah algoritma saja. Namun dari sepengetahuan saya sih biasanya disebut CT, dari keempat pilar idealnya itu biasanya bisa digunakan secara bersamaan, dari memecahkan suatu masalah itu decompostion, lalu mencari sebuah pola tersebut itu pattern recognition, lalu membuang detail yang mungkin tidak penting itu abstraction, dan lalu juga barulah menyusun langkah-langkah itu algoritma. Algoritma itu bagian paling akhir saja, jadi algoritma bukanlah bagian dari keseluruhan.

      Hapus
    3. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Margaretha Elintia, jadi menurut saya, berpikir komputasional itu nggak cuma soal bikin daftar langkah yang jelas, tapi lebih ke cara melihat dan menyelesaikan masalah secara lebih “cerdas” dan terstruktur. Jadi kita nggak wajib selalu pakai semua komponennya sekaligus kadang cukup algoritma aja, kadang perlu juga memecah masalah, mencari pola, atau menyederhanakan detail, tergantung situasinya. Intinya CT itu fleksibel, kita memilih alat yang paling cocok buat masalah yang lagi dihadapi.

      Hapus
    4. Nama: Rosa Lia Ana Rezki
      Npm: 2386206015
      Kelas: 5B pgsd

      Izin menjawab pertanyaan, margaretha elintia, menurut pandangan saya Memang sering ada kesalahpahaman bahwa computational thinking (CT) itu hanya soal membuat daftar langkah atau instruksi saja.
      Sebenarnya, membuat daftar langkah-langkah (yang kita sebut sebagai Algoritma) hanyalah salah satu bagian akhir dari proses berpikir tersebut. Agar langkah-langkah yang kita buat itu efektif dan tepat sasaran, kita sangat disarankan (bahkan hampir wajib) menggunakan pilar-pilar lainnya yang kamu sebutkan tadi. Berikut alasannya:
      1.Dekomposisi (Memecah masalah besar jadi kecil): Tanpa ini, langkah-langkah yang kamu buat akan terasa sangat berat dan membingungkan karena masalahnya masih terlalu besar.

      2.Pengenalan Pola (Mencari pola): Dengan melihat pola, kamu tidak perlu membuat langkah dari nol setiap saat. Kamu bisa menggunakan solusi yang pernah berhasil sebelumnya untuk masalah yang serupa.

      3.Abstraksi (Membuang detail tidak penting): Ini kunci agar daftar langkahmu tidak bertele-tele. Kamu hanya memasukkan instruksi yang benar-benar berpengaruh pada hasil akhir.

      Hapus
  23. Nama: Nur Sinta
    NPM: 2386206033
    Kelas: 5B PGSD

    Izin menanggapi pak...
    Awalnya saya mau tau inti dari apa itu berpikir komputasi makanya saya baca terlebih dahulu yang part 2 tapi, saat membaca computational thinking part 2 ternyata belum ada konsep yang spesifik dengan berpikir komputasi namun setelah saya baca part 1 ini, ternyata berpikir komputasi yaitu kita belajar menganalisis sebuah masalah yang kompleks dan memecahkan masalah melalui 4 pilar berpikir komputasi secara bertahap untuk melatih kemampuan berpikir siswa dan berpikir komputasi ternyata bisa kita terapkan di kehidupan sehari-hari. Berpikir komputasi ternyata bukan hanya tentang komputer atau pemrograman ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai sinta izin menaggapi ya.. Menurut saya dari 2 bagian pembahasan computatioanl part 1 & 2 ini point utamanya bukan tentang komputer tetapii belajar memikirkan masalah seperti cara kerja komputeryang runtun, terstruktur, dan efisien. Nah part 1 ini sejaln dengan penjelasan di part 2 yang menyatakan kalau computational literacy itu beda dengan computer literacy, bukan sekedar menggunakan komputer tetapi menggunakan cara berpikir seperti komputer dalam kehidupan sehari - hari.
      Jadi saya setuju sekali bahwa kita bisa memaknai computational thinking sebagai belajar dari masalah nyata, kemudian mengaplikasikan empat pilar berpikir komputasi itu secara bertahap agar kemampuan berpikir siswa terlatih, bukan hanya fokus pada alat seperti komputer. Prinsip ini bisa diterapkan di banyak konteks, bahkan tanpa harus menggunakan komputer, misalnya saat memecah soal cerita, merancang langkah kerja atau menyusun strategi belajar. Ini membuat konsepnya jadi lebih luas dan relevan bagi semua siswa.


      Hapus
    2. Nama: Rosa Lia Ana Rezki
      Npm: 2386206015
      Kelas: 5B pgsd

      Izin menanggapi tanggapan nur sinta, menurut saya tentang proses menganalisis dan memecahkan masalah kompleks secara bertahap melalui 4 pilar. Kesimpulanmu sangat tepat:
      1.Bukan Sekadar Komputer: Kamu telah memahami bahwa meskipun namanya mengandung unsur 'komputasi', ini bukan hanya tentang belajar pemrograman atau komputer saja, melainkan tentang pola pikir (mindset).

      2.Melatih Kemampuan Siswa: Sebagai calon guru PGSD, kesadaran kamu bahwa metode ini digunakan untuk melatih kemampuan berpikir siswa secara terstruktur adalah langkah awal yang sangat baik.

      3.Relevansi Kehidupan: Pemahaman bahwa ini bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari akan memudahkanmu memberikan contoh-contoh nyata kepada siswa di kelas nanti.

      Hapus
  24. Nama : Erlynda Yuna Nurviah
    Kelas : VB PGSD
    Npm : 2386206035

    izin menaggapi pak, materi yang bapak berikan ini dapat saya pahami karena menggunakan contoh yang revelan di kehidupan sehari - hari dalam penyelesaian masalah dimana untuk menyelesaikan sebuah masalah yang rumit seperti ini, memudahkan anak - anak maupun guru untuk menyelesaikan masalah secara bertahap . Dengan cara seperti ini siswa maupun guru dapat memecahkan sebuah masalah secara terstruktur mulai dari memahami masalah, memilahnya , memahami inti masalah dan akhirnya menyelesaikan juga mendapatkan solusi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Komentar dari Erlynda ini menarik sekali, karena fokus pada manfaat praktis dari materi CT, yaitu menyelesaikan masalah yang rumit secara bertahap dan terstruktur. Cara ini sangat mirip dengan pilar pertama CT, yaitu Dekomposisi (memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil), dan pilar terakhir, yaitu Algorithmic Thinking (menyusun langkah-langkah logis untuk solusi). Dengan Dekomposisi, masalah serumit apa pun jadi enggak bikin panik, karena kita tahu harus mulai dari mana dan menyelesaikannya satu per satu. Ini sangat penting, apalagi buat calon guru, karena proses berpikir ini nanti bisa diajarkan ke siswa supaya mereka juga punya skill memecahkan masalah yang handal. Selain itu, proses memilah dan memahami inti masalah yang kamu sebutkan itu adalah cerminan dari Abstraksi. Abstraksi itu kayak kita memakai filter untuk membuang semua detail yang enggak penting dan fokus hanya pada informasi inti yang benar-benar kita butuhkan buat cari solusi. Misalnya, kalau lagi merencanakan outing sekolah, detail warna bus mungkin enggak sepenting detail rute dan jam keberangkatan. Dengan Abstraksi, otak kita jadi efisien dan enggak buang-buang energi memikirkan hal yang enggak relevan. Jadi, CT ini benar-benar bikin kita lebih pintar mengambil keputusan dan lebih cepat mendapatkan solusi yang memuaskan di segala bidang kehidupan.

      Hapus
    2. Nama: Rosa Lia Ana Rezki
      Npm: 2386206015
      Kelas: 5B pgsd

      Izin menanggapi tanggapan erlynda yuna nurvia, ya saya juga setuju dengan erlynda karena Poin-poin yang kamu simpulkan sudah sangat tepat. Memahami computational thinking memang bertujuan untuk membantu baik siswa maupun guru dalam:
      1.Penyelesaian Bertahap: Memecah masalah rumit sehingga tidak terasa berat saat dikerjakan.

      2.Struktur Berpikir: Mulai dari memahami akar masalah, memilah bagian-bagiannya (dekomposisi), hingga menemukan inti masalah (abstraksi) sebelum akhirnya mengambil solusi.

      3.Efisiensi Belajar: Dengan cara terstruktur ini, proses belajar-mengajar di kelas PGSD nantinya akan jauh lebih sistematis dan mudah diikuti oleh anak didik.

      Sebagai calon pendidik, kemampuanmu untuk 'memilah' masalah sebelum menyelesaikannya adalah aset berharga untuk menciptakan suasana belajar yang logis bagi siswa. Terus pertahankan semangat belajarnya!"

      Hapus
  25. Saya jadi berpikir bahwa kemampuan berpikir komputasi itu sangat berguna, terutama di era digital sekarang. Tidak hanya untuk programmer, tetapi untuk siapa saja yang ingin menyelesaikan masalah dengan cara lebih sistematis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Komentar Yudha itu tepat sasaran banget. Kamu benar, Computational Thinking (CT) itu bukan cuma buat programmer, tapi buat siapa aja yang mau menyelesaikan masalah dengan sistematis. Nah, sistematis yang kita maksud di sini itu terwujud lewat empat pilar utama CT dekomposisi (mecah masalah), pengenalan pola, abstraksi, dan satu lagi yang sering jadi penentu keberhasilan, yaitu Algorithmic Thinking atau Berpikir Algoritmik. Ini intinya adalah kemampuan kita buat nyusun instruksi step-by-step yang jelas dan logis sebelum kita bertindak. Jadi, dengan CT, kita enggak cuma ngerjain masalah, tapi kita merencanakan solusinya dengan matang, layaknya seorang insinyur! Penerapan CT ini benar-benar bikin kita unggul di era digital seperti sekarang. Coba deh bayangin pas kita lagi mengatur data yang banyak atau membuat keputusan cepat di tempat kerja. Tanpa CT, kita mungkin akan kewalahan dan bingung mulai dari mana. Tapi, berkat CT, kita jadi punya filter dan peta jalan untuk memilah informasi (abstraksi), melihat mana yang harus diatasi duluan (dekomposisi), dan menyusun action plan yang efisien (Algorithmic Thinking). Jadi, CT ini bukan cuma teori, tapi adalah skill hidup yang mengubah kita dari reaktif menjadi proaktif .

      Hapus
  26. Nama:Erfina feren heldiana
    kelas:5c
    npm:2386206065

    Izin bertanya pak, kalau konsepnya saja masih belum punya definisi yang benar-benar disepakati, terus bagaimana sekolah di Indonesia nanti bakal menerapkannya secara konsisten? Apalagi kalau masih banyak guru yang belum familiar dengan dasar-dasarnya, apakah nggak bakal bikin interpretasinya jadi beda-beda di tiap sekolah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
      Npm : 2386206058
      Kelas : VB PGSD

      Hallo erfina izin menjawab yah. Menurut aku, memang wajar kalau konsep computational thinking di Indonesia masih terasa baru dan belum punya definisi yang benar-benar disepakati semua pihak. Soalnya, setiap sekolah mempunyai punya kondisi, fasilitas, dan tingkat pemahaman guru yang beda-beda. Jadi cara menerapkannya pun bisa variatif banget. Tapi justru di situlah poinnya, computational thinking itu bukan aturan yang harus sama persis di semua tempat. Yang penting adalah inti konsepnya seperti memecah masalah jadi lebih kecil, mencari pola, fokus pada hal yang penting, dan juga menyusun langkah penyelesaiannya bisa dipahami dan dilatih oleh siswa. Selama guru mengajarkan dasarnya dengan benar, interpretasi yang sedikit berbeda itu nggak masalah. Lama-lama, seiring sering dipakai, cara menerapkannya juga bakal makin seragam dan matang.

      Terimakasih🙏🏻

      Hapus
    2. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD

      Izin menjawab pertanyaan dari Erfina Feren Heldiana, menurut sepengetahuan yang saya ketahui memang sangatlah betul disebabkan definisi CT itu belum dengan sepenuhnya seragam, resiko interprestasi yang menjadi berbeda-beda itu benarlah ada. Namun kenyataannya penerapannya akan tetap bisa konsisten/teratur kalau dari setiap sekolahnya itu mau untuk memakai dari prinsip dasarnya, bukanlah hanya bagian definisi tunggalnya saja. Dengan didukungnya kerangka kurikulum dan juga pelatihan bagi para gurunya, maka interprestasi mungkin bisa untuk diminimalkan lagi.

      Hapus
    3. Nama:Imelda Rizky Putri
      Npm:2386206024
      Kelas:5B

      Izin menjawab pertanyaan dari Erfina, jadi menurut saya, walaupun definisi CT masih beragam, penerapannya di sekolah sebenarnya bisa tetap konsisten kalau fokusnya disamain: latihan cara mikirnya, bukan istilahnya. Kurikulum biasanya ngasih kerangka dasar kayak dekomposisi, pola, abstraksi, dan algoritma jadi guru tinggal ngembangin contoh dan aktivitas sesuai konteks. Memang bakal ada variasi interpretasi, tapi itu wajar dan justru bisa bikin pembelajaran lebih fleksibel. Yang penting guru ngerti intinya dulu dan dapet pelatihan yang cukup, biar arah besar penerapannya tetap sejalan meskipun gaya ngajarnya beda-beda.

      Hapus
    4. Nama: Rosa Lia Ana Rezki
      Npm: 2386206015
      Kelas: 5B pgsd

      Izin menjawab pertanyaan erfina feren heldiana, ya Memang benar bahwa secara akademis, definisi CT masih terus berkembang. Namun, untuk menjaga agar tidak terjadi kebingungan atau perbedaan interpretasi yang terlalu jauh di tiap sekolah, berikut adalah beberapa hal yang dilakukan dalam sistem pendidikan kita:
      1. Standar Kurikulum Nasional (Kurikulum Merdeka) Pemerintah melalui Kurikulum Merdeka telah menetapkan Capaian Pembelajaran (CP) yang menjadi acuan baku. Meskipun definisinya beragam, Indonesia fokus pada 4 pilar inti (Dekomposisi, Pengenalan Pola, Abstraksi, dan Algoritma) sebagai standar operasional. Jadi, setiap sekolah memiliki 'pagar' yang sama dalam mengajarkannya.

      2. Pelatihan Guru secara Masif Kekhawatiranmu tentang guru yang belum familiar sangat beralasan. Oleh karena itu, saat ini banyak gerakan seperti Bebras Indonesia atau program pemerintah yang fokus pada pelatihan Computational Thinking khusus untuk guru. Tujuannya adalah menyamakan persepsi dasar sebelum mereka mengajarkannya ke siswa.

      3. Fokus pada 'Proses Berpikir', Bukan Hasil Akhir Untuk mengatasi perbedaan interpretasi, penekanan di sekolah bukan pada 'menghafal definisi CT', melainkan pada praktik memecahkan masalah. Selama siswa dilatih untuk berpikir sistematis dan logis, tujuan utama CT sebenarnya sudah tercapai, meskipun cara penyampaian gurunya mungkin sedikit bervariasi.

      4. Materi yang Terintegrasi CT di Indonesia umumnya tidak berdiri sebagai mata pelajaran tunggal yang kaku, melainkan diintegrasikan ke mata pelajaran lain (seperti Matematika atau Bahasa Indonesia). Ini membantu guru memahami CT melalui konteks yang sudah mereka kuasai sebelumnya.

      Hapus
  27. Nama : Dita Ayu Safarila
    Kelas : 5C
    NPM : 2386206048
    bagus banget CT ini dia membantu kita untuk memecahkan masalah dan membantu kita bagimana mencari solusi terbaik dengan meniru langkah langkah sebelum masalah itu di serahkan ke komputer atau hp. ini cara terencana untuk mencapai hasil yang memuaskan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Komentar Dita bagus banget karena udah nyentuh inti dari CT, yaitu merencanakan solusi sebelum masalahnya diserahkan ke komputer. Selain dari tiga konsep utama dekomposisi, pengenalan pola, dan abstraksi, CT juga mengajarkan kita tentang Algorithmic Thinking atau Berpikir Algoritmik. Ini adalah bagian di mana kita bener-bener menyusun langkah-langkah step-by-step yang super jelas dan logis. Bayangkan seperti kita sedang menulis resep. Kalau resepnya berantakan, hasilnya pasti gagal. Begitu juga kalau kita mau mecahin masalah, langkah yang terencana dan berurutan adalah kunci supaya computer atau bahkan kita sendiri bisa ngikutin dengan mudah dan hasilnya memuaskan seperti yang kamu bilang. Yang paling penting, semua konsep CT itu saling berkaitan dan hasilnya adalah kita jadi punya pola pikir yang sistematis. Dengan CT, kita enggak cuma bisa mecahin masalah yang ada hubungannya sama komputer, tapi juga masalah sehari-hari lho. Misalnya, saat kita lagi mengatur budget bulanan atau merapikan jadwal tugas. Kita mecah pengeluaran (dekomposisi), nyari pola pengeluaran yang boros (pengenalan pola), fokus ke kebutuhan primer (abstraksi), dan bikin langkah-langkah buat nabung (Algorithmic Thinking). Jadi, CT itu alat bantu buat kita lebih cerdas dan lebih efektif dalam ngambil setiap keputusan, bukan cuma soal coding!

      Hapus
  28. Nama : Dita Ayu Safarila
    Kelas : 5C
    NPM : 2386206048
    izin menjawab pertanyaan dari erfina,tadi gak sengaja liat ada beberapa pertanyaan tapi tertarik sama ini. Sekolah memang fokus pada hapalan tetapi fokus pada hapalan itu jalan pintas yang sibuk dan baik,agar cepat juga cara penilaian guru di sekolah. sementara itu berpikir kritis membutuhkan investasi waktu,ruang aman untuk kesalahan dan perubahan mendasar pada cara mengajar. jadi masalahnya itu bukan pada kita tapi pada kebiasaan sistem yang perlu perlahan diubah pelan pelan

    BalasHapus
  29. Setelah saya baca materi dari bapak yang ini saya jadi tau kalo Dari keempat pilar itu, saya jadi merasa Decomposition (Dekomposisi) dan Abstraction (Abstraksi) adalah dua keterampilan yang paling sering kita gunakan sehari-hari tanpa sadar, dan saya rasa materi bapak ini berhasil menyadarkan saya akan hal itu.
    ​Dekomposisi, yaitu membagi masalah kompleks menjadi bagian-bagian kecil, sangat relevan. Contohnya saat kami merencanakan aktivitas bersama teman saya, kami tidak hanya langsung mencari tempat, tapi kami pecah dulu: Apa yang bisa dilakukan? Siapa yang mau ikut? Berapa biayanya? Ini adalah proses dekomposisi murni. Kemudian, saat menganalisis semua variabel itu, kita pakai Abstraksi. Kami fokus pada variabel penting misalnya, Biaya dan Waktu tersedi dan mengabaikan detail yang kurang relevan saat itu mungkin warna baju yang akan dipakai. Dengan melihat masalah kompleks melalui dua pilar ini, kita jadi tahu bahwa CT bukan hanya buat programmer, tapi memang cara berpikir yang sangat praktis untuk membuat keputusan yang efisien, baik itu memilih rute tercepat di jalan atau memilih aktivitas agar semua teman senang.

    BalasHapus
  30. Saya juga cukup suka dengan penjelasan artikel mengenai Pattern Recognition (Pengenalan Pola) dan Algoritma. Dua pilar ini menunjukkan bagaimana CT membantu kita belajar dari pengalaman masa lalu dan menciptakan solusi yang dapat diulang.
    ​Pengenalan pola ini terasa sangat kuat di contoh bermain video game. Untuk menyelesaikan satu level dengan cepat, kita pasti mencari tahu pola serangan musuh, pola munculnya item, atau pola terbaik untuk bergerak. Ini adalah pengenalan pola yang efisien, membuat kita tidak perlu mencoba-coba dari nol lagi. Sementara itu, Algoritma adalah puncak dari semua pilar. Setelah kita dekomposisi masalah, mengenali polanya, dan abstraksi informasinya, kita merancang langkah-langkah sistematisnya. Algoritma ini ibarat resep sukses yang kita susun agar masalah serupa di masa depan bisa diselesaikan dengan langkah yang sama dan efisien. Jadi, Algoritma ini bukan sekadar kode, tapi kemampuan untuk menyusun strategi yang terstruktur dari awal sampai akhir. Keterampilan ini sangat bermanfaat dalam segala hal, mulai dari menyusun jadwal belajar hingga menyelesaikan proyek besar.

    BalasHapus
  31. Nama : Maria Ritna Tati
    NPM:2386206009
    Kelas : V A PGSD

    Dari materi yang saya baca materi ini memberikan pengantar yang bagus tentang computational thinking.penjelasan tentang empat pilar computational thinking dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma sangat membantu untuk memahami konsep dasar dari cara berpikir ini. contoh-contoh yang diberikan juga relevan dan mudah dipahami, sehingga pembaca bisa langsung membayangkan bagaimana computational thinking bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.computational thinking adalah pendekatan berpikir yang melibatkan pemecahan masalah kompleks menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan mudah dikelola dekomposisi, mencari pola atau kesamaan di antara masalah-masalah tersebut pengenalan pola,fokus pada informasi yang relevan dan mengabaikan detail yang tidak penting abstraksi, dan mengembangkan langkah-langkah sistematis untuk menyelesaikan masalah algoritma. Dengan menguasai keempat pilar ini, kita bisa menjadi pemecah masalah yang lebih baik dan mampu menghadapi berbagai tantangan dengan lebih percaya diri.

    BalasHapus
  32. Nama : Maria Ritna Tati
    NPM : 2386206009
    Kelas : V A PGSD

    Tambahan sedikit dari saya atas materi ini saya suka bagaimana materi ini menekankan bahwa computational thinking bukan hanya tentang pemrograman komputer, tapi juga tentang cara berpikir yang bisa digunakan oleh siapa saja, tanpa perlu memiliki keterampilan khusus di bidang IT.ini membuka wawasan bahwa computational thinking adalah keterampilan yang penting untuk semua orang, karena membantu kita memecahkan masalah dengan lebih efektif dan efisien.computational thinking adalah keterampilan yang sangat berharga di era digital ini, karena membantu kita untuk berpikir logis, sistematis, dan kreatif dalam memecahkan masalah.dengan mengembangkan kemampuan computational thinking, kita bisa lebih siap menghadapi tantangan di dunia kerja yang semakin kompleks dan mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi yang terjadi dengan cepat.dan juga computational thinking juga membantu kita untuk menjadi warga negara digital yang lebih cerdas dan bertanggung jawab.

    BalasHapus
  33. Nama: Ratna Andina
    NPM:2386206074
    Kelas: 5C PGSD

    menurut saya, penjelasan mengenai computational thinking ini benar-benar membuka wawasan baru. selama ini saya pikir kemampuan berpikir komputasional itu hanya dipakai di dunia teknologi saja. tapi setelah membaca ini, saya jadi paham bahwa cara berpikir tersebut ternyata juga sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari, seperti menyusun rencana, mengambil keputasan, atau menyelesaikan masalah sederhana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Ratna Andina
      NPM:2386206074
      Kelas: 5C PGSD

      ijin menambahkan lagi, saya pribadi merasa bahwa empat langkah seperti decomposition, pattern recognition, abstraction, dan algoritma thinking sangat membantu agar masalah tidak terasa berat karena bisa dipecah menjadi bagian-bagian kecil. ini membuat proses berpikir menjadi lebih terarah dan tidak bingung harus mulai dari mana.
      sebagai calon guru sd, saya jadi sadar bahwa keterampilan berpikir seperti ini penting untuk diajarkan sejak dini supaya siswa terbiasa berpikir sistematis dan mandiri ketika menghadapi masalah. jadi, bukan hanya menghafal materi, tetapi belajar bagaimana cara berpikir dan menemukan solusi.

      Hapus
  34. Nama: Ratna Andina
    NPM:2386206074
    Kelas: 5C PGSD

    Ijin menjawab ya erfina.
    menurut saya ini adalah hal yang sangat sesuai dengan kondisi pendidikan saat ini. memang benar kalau dibanyak sekolah fokus pembelajaran masih cendurung ke hafalan karena beberapa penyebab.
    menurut saya langkah kecil bisa dimulai dari guru yang mencoba memberi kesempatan berdiskusi, bertanya balik, atau memberi tugas berbasis pemecahan masalah. dengan begitu, perlahan siswa terbiasa dan lingkungan belajar menjadi lebih terbuka terhadap ide dan kreativitas.

    BalasHapus
  35. Nama: Imelda Rizky Putri
    Npm: 2386206024
    Kelas:5B

    Izin bertanya pak, bagaimana peran teknologi dalam membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir komputasi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama:Elisnawatie
      NPM:2386206069
      Kelas:5D

      Halloo Imelda izin menjawab ya

      Teknologi memiliki peran yang sangat penting dalam membantu siswa mengembangkan kemampuan computational thinking. Beberapa perannya itu seperti

      1. Visualisasi konsep: Dengan teknologi, siswa bisa melihat konsep yang abstrak menjadi lebih nyata. Misalnya, menggunakan aplikasi simulasi atau animasi untuk memahami alur algoritma atau pemecahan masalah.
      2. Latihan interaktif: Berbagai platform belajar dan permainan edukatif memungkinkan siswa berlatih berpikir logis, mengenali pola, dan menyusun langkah-langkah penyelesaian masalah secara menyenangkan.
      3. Menyederhanakan proses kompleks: Software dan alat digital bisa membantu siswa memecah masalah besar menjadi bagian-bagian lebih kecil (dekomposisi), sehingga lebih mudah dipahami dan dipecahkan.
      4. Memberi umpan balik langsung: Saat siswa mencoba suatu solusi melalui teknologi, mereka bisa langsung melihat hasilnya dan memperbaiki kesalahan, sehingga kemampuan berpikir kritis dan reflektif semakin terasah.
      5. Kolaborasi dan eksplorasi: Teknologi memungkinkan siswa bekerja sama secara virtual, berbagi ide, dan menemukan solusi kreatif bersama, yang menstimulasi kemampuan berpikir komputasi dalam konteks nyata.

      Jadi, teknologi bukan hanya alat bantu, tapi juga menjadi “teman belajar” yang membuat computational thinking lebih mudah dipahami, diterapkan, dan menyenangkan bagi siswa.😁

      Hapus
    2. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
      Kelas : 5 B
      Npm : 2386206042

      izin jawab juga ya imelda, teknologi berperan sebagai alat bantu utama yang menyediakan lingkungan interaktif bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir komputasi, yaitu dengan memfasilitasi praktik langsung dalam memecah masalah (dekomposisi), menemukan keteraturan (pengenalan pola), fokus pada inti masalah (abstraksi), dan merancang langkah-langkah solusi yang jelas (algoritma), sering kali melalui platform coding visual atau robotika edukasi.

      Hapus
    3. Nama: Nanda Vika Sari
      Npm: 2386206053
      Kelas: 5B PGSD

      Izin menjawab pertanyaan dari Imelda Rizky Putri, menurut sepengetahuan saya ya imel dari teknologi itu bisa membantu para siswa itu untuk berlatih CT dengan menyediakan alatnya untuk bisa dicoba oleh para siswa, menguji, dan juga melatih hasilnya secara langsung seperti simulasi, game edukasi, dan juga aplikasi pemecahan suatu masalah yang bisa membuat proses berpikir komputasinya menjadi lebih konkret/nyata, dan juga mudah untuk bisa dipahami oleh para siswa.

      Hapus
    4. Nama: Andi Nurfika
      NPM : 2386206017
      Kelas: VB PGSD

      Saya bantu menjawabnya ya Imel, jadi teknologi membantu siswa untuk belajar berpikir komputasi karena mereka jadi terbiasa menyusun langkah-langkah secara runtut. Aplikasi dan game edukasi membuat siswa belajar memecah masalah tanpa terasa seperti belajar berat. Lewat coding sederhana atau simulasi siswa belajar mengenali pola dan hubungan sebab akibat. Teknologi juga kasih kesempatan buat coba salah lalu perbaiki lagi, jadi proses berpikirnya makin terasa, kalau dipakai dengan pas, teknologi bikin siswa lebih logis, kreatif dan percaya diri saat menyelesaikan masalah

      Hapus
    5. Nama: Rosa Lia Ana Rezki
      Npm: 2386206015
      Kelas: 5B pgsd

      Izin menjawab pertanyaan imelda rizky putri, Meskipun kita sering menekankan bahwa computational thinking (CT) bisa dipelajari tanpa komputer (unplugged), teknologi tetap memegang peran krusial sebagai alat akselerasi dan media praktik bagi siswa.
      Berikut adalah beberapa peran utama teknologi dalam membantu siswa mengembangkan kemampuan CT:
      1. Sebagai Media Eksperimen (Uji Coba Langsung) Teknologi memungkinkan siswa untuk langsung menguji algoritma yang mereka buat.
      Contoh: Melalui aplikasi coding sederhana seperti Scratch, siswa menyusun logika langkah-demi-langkah. Jika urutannya salah, karakter di layar tidak akan bergerak sesuai keinginan. Ini melatih siswa untuk melakukan evaluasi dan perbaikan secara instan.

      2. Membantu Visualisasi Masalah yang Kompleks Teknologi dapat mengubah konsep abstrak menjadi sesuatu yang visual dan nyata.
      Contoh: Penggunaan simulasi digital atau grafik interaktif membantu siswa melakukan Abstraksi dan Pengenalan Pola dengan lebih cepat dibandingkan hanya membayangkannya di kepala.

      3. Menyediakan Alat Bantu Dekomposisi Berbagai perangkat lunak (seperti aplikasi mind mapping atau manajemen tugas) membantu siswa terbiasa melakukan Dekomposisi dengan cara memecah proyek besar menjadi daftar tugas digital yang lebih kecil dan terorganisir.

      4. Memberikan Umpan Balik Cepat (Instant Feedback) Komputer bekerja dengan logika yang kaku. Saat siswa berinteraksi dengan teknologi, mereka belajar bahwa instruksi harus logis dan presisi. Jika ada kesalahan, sistem akan memberikan respon, yang secara tidak langsung melatih ketelitian logika mereka.

      5. Akses ke Sumber Belajar Luas Teknologi memungkinkan siswa mengakses berbagai tantangan CT dari seluruh dunia, seperti tantangan dari komunitas Bebras, yang membantu mereka mengenali berbagai jenis pola masalah yang berbeda.

      Hapus
  36. Nama:Elisnawatie
    Nim:2386206069
    Kelas:5D

    Kamu benar banget erfina rasanya janggal kalau sekolah bilang berpikir kritis itu penting tapi praktiknya masih banyak menekankan hafalan dan tugas rutin. Sebenarnya ini bisa terjadi karena beberapa hal yang saling terkait seperti :
    1.Sistem pendidikan yang masih kaku: Banyak kurikulum dan standar penilaian di sekolah masih menilai “jawaban benar” daripada proses berpikir. Jadi guru terdorong untuk fokus mengulang materi .
    2. Keterbatasan waktu dan sumber daya: Mengembangkan berpikir kritis butuh waktu untuk diskusi, eksperimen, dan refleksi. Di kelas yang padat jam pelajaran atau jumlah siswa banyak, guru sering kesulitan menyediakan ruang itu.
    3. Kebiasaan lama: Baik guru maupun siswa kadang masih terbiasa dengan metode menghafal dan menyalin jawaban. Berpikir kritis itu menuntut keberanian mencoba, salah, dan belajar dari kesalahanyang memang butuh proses adaptasi.
    4. Kurangnya pelatihan guru: Tidak semua guru mendapatkan pelatihan bagaimana membimbing siswa berpikir kritis dengan metode yang menarik dan efektif.

    Jadi sebenarnya ini kombinasi: sistem yang belum sepenuhnya mendukung, dan kebiasaan lama yang belum berubah. Kalau keduanya bisa diperbaiki misalnya dengan kurikulum yang lebih fleksibel, penilaian berbasis proses, dan guru yang terbiasa memfasilitasi diskusi maka kemampuan berpikir kritis siswa bisa berkembang lebih optimal.

    BalasHapus
  37. Nama : Isdiana Susilowati Ibrahim
    Npm : 2386206058
    Kelas : VB PGSD

    Izin menanggapi pak setelah saya membaca kembali.Menurut saya, materi tentang computational thinking ini sangat bermanfaat, terutama dalam mengembangkan cara berpikir kita. Dengan memahami konsep-konsep seperti dekomposisi, pengenalan pola, dan abstraksi, kita bisa lebih mudah menyelesaikan masalah yang kompleks. Tak hanya itu, penerapan teknik-teknik tersebut juga sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam pemrograman komputer maupun dalam pengambilan keputusan sehari-hari yang lebih terstruktur. Pembelajaran ini mengajarkan kita untuk berpikir lebih sistematis dan kritis dalam menghadapi tantangan.🙏🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Saya setuju banget dengan komentar Isdiana. Komentar ini keren karena menyoroti kalau Computational Thinking (CT) itu bukan cuma buat anak IT, tapi buat kita semua. Selain tiga konsep tadi (dekomposisi, pengenalan pola, dan abstraksi), satu lagi yang krusial dari CT adalah Algorithmic Thinking (Berpikir Algoritmik). Ini intinya adalah kemampuan kita buat nyusun langkah-langkah yang jelas, berurutan, dan logis buat mencapai tujuan atau menyelesaikan masalah. Jadi, setelah kita pecah masalahnya (dekomposisi), tahu polanya (pengenalan pola), dan fokus ke hal penting (abstraksi), kita tinggal bikin resep kerjanya yang detail dan pasti berhasil. Nah, yang paling asik dari belajar CT ini adalah dampaknya ke kebiasaan sehari-hari. Coba deh bayangin pas kita lagi merencanakan liburan atau menyusun jadwal belajar yang efektif. Itu semua adalah bentuk nyata dari CT. Kita memecah perjalanan (dekomposisi), kita cari pola jadwal terbaik (pengenalan pola), kita fokus pada tujuan utama liburan/belajar (abstraksi), dan terakhir kita buat itinerary atau to-do list yang terperinci (Algorithmic Thinking). Dengan begitu, masalah kompleks yang tadinya bikin pusing, sekarang jadi tantangan yang bisa kita taklukkan dengan cara yang sistematis dan meminimalkan kesalahan.

      Hapus
  38. Kembali membuka uraian mengenai mengenal computational thinking.
    Pada bacaan saya yang kedua di laman ini saya tertarik melihat contoh yang disajikan atau yang diberikan pada uraian di laman ini mengenai bagaimana computational thinking ini bekerja pada diri manusia .
    Ternyata tanpa kita sadari ketika kita melakukan suatu kegiatan berpergian untuk berkumpul bersama teman atau untuk sekadar nongkrong, kita sebenarnya sudah membentuk penerapan komputational thinking dalam diri kita.
    Apalagi para perempuan pastinya sebelum jalan ke suatu tempat seperti cafe ataupun tempat nongkrong lainnya pasti perempuan itu sangat teliti sekali memprediksi hal-hal yang harus disiapkan sebelum berpergian ,belum lagi mencari perjalanan yang mudah ditempuh dan tentunya rute perjalanan tersebut dekat dari tempat awal ke tempat tujuan karena, biasanya perempuan itu tidak suka berpanas-panasan atau tidak suka terlalu berlama-lama di atas kendaraan.
    Ketika kita melakukan perencanaan tersebut mencari rute dan mempersiapkan hal-hal yang akan kita bawa untuk nongkrong ataupun jalan ternyata, sudah termasuk menerapkan komputertional thinking dalam diri kita sendiri, sementara itu ketika kita menjalankan persiapan-persiapan atau prediksi yang telah kita pikirkan tadi kita telah mengikuti petunjuk memprogram.
    Jadi tanpa kita sadari kita melakukan semua kegiatan itu sehari-hari berarti kita sudah mampu menganalisis sebuah masalah yang kompleks, lalu kita bisa memahami inti permasalahan, dan mengembangkan solusi yang baik yang untuk kita jalankan.

    BalasHapus
  39. Nama: Rosidah
    Npm: 2386206034
    Kelas: 5B (PGSD)

    Materi diatas sangat membantu, ternyata CT ini sebenarnya sudah kita lakukan dikehidupan sehari-hari bahkan tanpa kita sadari. Penjelasan nya tentang bagaimana cara kita memecahkan masalah, mencari pola, memiliki infomasi, serta membuat langkah penyelesaian yang jelas dan mudah dipahami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
      Kelas : 5 B
      Npm : 2386206042

      setuju kak ros, Inti dari Computational Thinking (CT) memang adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan pola pikir logis dan terstruktur layaknya seorang ilmuwan komputer untuk memecahkan masalah di kehidupan sehari-hari, bahkan yang paling sederhana sekalipun. Senang rasanya materi ini bisa memberikan perspektif baru tentang hal yang selama ini sudah kita lakukan tanpa sadar hehe.

      Hapus
  40. Nama: Rosidah
    Npm: 2386206034
    Kelas: 5B (PGSD)

    Kedepan mungkin kita sebagai guru bisa nie menerapkan ke siswa-siswi nantinya, seperti kita latih mereka untuk menerapkan CT pada situasi sehari-hari, misalnya mengatur jadwal belajar, atau menyelesaikan tugas sekolah. Dengan begitu mereka tidak hanya paham konsep tetapi juga merasakan manfaatnya secara langsung.

    BalasHapus
  41. nama : bangkit dwi prasetyo
    kelas : 5b
    npm : 2386206044

    Menurut saya pribadi materinya enak dibaca dan mudah dipahami. Jadi makin jelas kalau Computational Thinking itu bukan cuma soal komputer, tapi cara kita mikir supaya masalah bisa diselesaikan dengan rapi dan teratur. Empat langkah yang dijelasin juga simpel dan masuk akal. Intinya, materi ini ngebantu banget buat ngeliat masalah dari sudut pandang yang lebih jelas. Mantap!..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : Juliana Dai
      NPM : 2386206029
      Kelas : V,B

      Komentar Banngkit sangat bagus. Intinya, Computational Thinking (CT) itu benar-benar tentang cara kita mikir, bukan cuma soal coding atau komputer. Kita dilatih jadi detektif masalah, di mana masalah besar itu kita pecah-pecah (Decomposition) jadi bagian yang lebih kecil dan gampang diurus. Sama seperti kalau kamu mau bikin kue yang resepnya panjang, enggak langsung slap semua bahan, kan? Tapi kita bagi-bagi langkahnya nyiapin bahan, ngadon, manggang, dan finishing. Cara ini bikin masalah serumit apapun jadi kelihatan simpel dan masuk akal, karena kita selesaikannya satu per satu dengan rapi. Nah, setelah dipecah-pecah, CT juga ngajarin kita buat jadi jagoan ngeh sama pola-pola yang ada (Pattern Recognition). Misalnya, kamu punya banyak tugas sekolah, pasti ada pola tugas yang selalu sama atau yang paling sering bikin susah. Dengan tahu polanya, kita bisa nyari cara tercepat buat ngatasinnya. Terus, ada juga yang namanya Abstraksi, ini kayak kita milih-milih informasi mana yang penting buat solusi, mana yang cuma detail enggak guna yang cuma bikin pusing. Jadi, CT ini bukan cuma buat jadi programmer, tapi skill buat ngatur hidup dan nyelesaiin masalah harian biar lebih efektif dan efisien.

      Hapus
  42. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Perkenalkan saya Fauzan Nashrullah Fajar NPM.2386206021 dari kelas 5B PGSD.

    Saya setuju banget dengan penjelasan bahwa Computational Thinking (CT) itu adalah skill berpikir esensial, bukan sekadar kemampuan memprogram komputer. Jujur saja... pemaparan tentang Empat Pilar CT ini kena banget dan menjadi kunci utama yang harus kita pahami sebagai calon pendidik.

    Nah... ini nih yang paling penting.. Empat Pilar CT—yaitu Decomposition (Dekomposisi), Pattern Recognition (Pengenalan Pola), Abstraction (Abstraksi), dan Algorithms (Algoritma)—adalah kerangka kerja yang bikin masalah kompleks jadi nggak sulit. Misalnya nih... saat kita mau merencanakan pergi ke tempat baru (relate banget dengan contoh di materi), kita secara otomatis memecah masalah (Dekomposisi) rute, mencari rute terbaik yang pernah berhasil (Pengenalan Pola), fokus pada rute tercepat dan mengabaikan detail toko di jalan (Abstraksi), lalu menyusun langkah-langkah perjalanan (Algoritma). Proses ini nggak cuma dipakai komputer loh.. ternyata kita pakai di kehidupan kita sehari-hari!!!

    Teman-teman, kita harus sadari bersamanih... Bahwa ini tuhh.. tantangan besar nan mutlak buat kita sebagai calon guru PGSD. Kita harus bisa merancang metode mengajar yang supportive dan kena banget agar Empat Pilar CT ini tertanam sejak dini pada siswa SD. Kita harus bisa bikin siswa nggak takut pada masalah kompleks, melainkan melihatnya sebagai peluang untuk menerapkan kerangka berpikir logis yang worth banget kann..?

    Ternyata jadi Seorang guru itu susah banget yahh..? Tanggungjawab kita sebesar dengan waktu kerja dan istirahat yang gak seimbang:v

    BalasHapus
  43. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Perkenalkan saya Fauzan Nashrullah Fajar NPM.2386206021 dari kelas 5B PGSD.

    Aduh... saya dapat poin baru yang asik lagi nih... suka banget dehhh... dengan contoh penerapan Computational Thinking (CT) yang ada di materi, terutama di aktivitas merencanakan bersama teman dan bermain video game. Saya setuju banget dengan premis bahwa CT itu adalah keterampilan yang "sudah Anda miliki dan gunakan setiap hari," tuh... Ini adalah poin yang bagus dan mendalam banget karena bikin CT nggak lagi terasa asing atau sekadar pelajaran informatika.

    Nah... Poin ini nih.. yang paling penting! contoh video game menunjukkan bagaimana Decomposition (memecah level menjadi keputusan kecil) dan Abstraction (fokus pada item, lokasi, bagaimana cara menghancurkan turet, dan mencarii kelemahan musuh, mengabaikan detail lain) itu terjadi secara alami di dalam game, teman-teman pernah main moba legend atau epep kan..? Seperti itulah contohnya... Dengan memahami bahwa CT terjadi saat kita mencari rute tercepat dari rumah yang satu ke rumah yang lain (di game eppep) atau saat menentukan rotasi yang cepat dari lane satu ke lane yang lain guna menghancurkan turet, ngegank ataupun berpindah dari setiap baff yang ada (di game ML), kita seharusnya sudah bisa memandang CT sebagai sesuatu yang tidak hanya berhubungan dengan memprogram komputer. Karena CT adalah proses berpikir logis untuk mencapai solusi efisien...

    Sekali lagi saya tegaskan!! Bahwa inilah... tantangan besar nan mutlak buat kita calon pendidik. Tugas kita adalah menyesuaikan secara pribadi dan membuat siswa sadar bahwa mereka sudah memiliki kemampuan CT. Kita harus bisa mengangkat contoh-contoh yang relate dengan dunia mereka (seperti game) untuk menjelaskan konsep Abstraction dan Algoritma. Ini worth banget agar siswa nggak merasa terbebani, tapi justru terinspirasi untuk menggunakan kemampuan berpikir mereka secara lebih terstruktur di semua mata pelajaran.

    BalasHapus
  44. Dari materi yang dipaparkan bisa dipahami bukan hanya tentang program komputer tetapi juga kalau ternyata computational thinking itu sebenarnya sering kita pakai tanpa sadar. Misalnya saat mau pergi kemna gitu dan kita mikir rute terbaik, itu kan sama aja kayak lagi memecahkan masalah dan nyari cara yang paling efisien. Ternyata cara berpikir ini bukan cuma buat orang yang belajar komputer, tetapi juga berguna juga buat di kehidupan sehari-hari

    BalasHapus
  45. Disini dijelaskan ada Empat pilar computational thinking, nah ini juga membantu kita menjadi lebih teratur dalam menghadapi masalah. Keya Daripada pusing lihat masalah besar, kita pecah dulu jadi bagian kecil, ambil yang penting saja, terus buat langkah-langkahnya. Jadinya masalah yang awalnya kelihatan ribet bisa terasa lebih ringan dan jelas secara menyajikannya.

    BalasHapus
  46. Nama : Juliana Dai
    NPM : 2386206029
    Kelas : V,B

    Menurut saya, materi tentang Berpikir Komputasi (Computational Thinking/CT) ini disajikan dengan sangat bagus dan gampang dipahami. Poin utamanya benar-benar kena CT itu bukan cuma buat orang yang mau jadi programmer atau ahli komputer, tapi ini adalah cara berpikir yang berguna buat semua orang. Penjelasan bahwa CT terbagi menjadi empat Langkah memecah masalah besar jadi kecil (Decomposition), mencari pola (Pattern Recognition), fokus ke yang penting-penting saja (Abstraction), dan membuat rencana langkah demi langkah (Algorithms) sangat mudah dicerna. Contoh yang dipakai, seperti merencanakan jalan-jalan atau main game, juga sukses membuktikan bahwa kita sebenarnya sudah pakai cara berpikir ini sehari-hari, jadi tidak perlu merasa asing atau takut.

    Di mata saya, materi ini sangat cocok dan penting sekali buat perkembangan pendidikan kita sekarang. Dunia kerja makin ke depan makin butuh orang yang jago pecahin masalah dan bisa berpikir logis, terutama dengan maraknya otomatisasi dan AI. Kalau anak-anak dari sekolah sudah dibekali kemampuan CT, mereka akan punya senjata yang kuat, bukan cuma untuk mata pelajaran TIK, tapi juga untuk pelajaran lain seperti IPA, Matematika, bahkan saat mereka harus berdiskusi dan membuat rencana. Jadi, pengajaran CT ini adalah langkah tepat untuk melatih anak-anak kita menjadi generasi yang siap bersaing dan berkreasi, bukan hanya sekadar jadi pengguna teknologi saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget sama Juliana, emang bener banget kalau CT itu life skill buat semua orang, bukan cuma buat yang pengen jadi IT expert doang, biar kita makin smart pas harus problem solving di tengah gempuran AI dan nggak cuma jadi penonton doang.

      Hapus
  47. Nama : Juliana Dai
    NPM : 2386206029
    Kelas : V,B

    Sedik tambahan dari tanggapan saya adalah bahwa pengajaran Berpikir Komputasi (CT) ini tidak hanya penting untuk mempersiapkan siswa menghadapi masa depan digital, tetapi juga sangat krusial dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis mereka secara umum. Dengan belajar memecah masalah (dekomposisi) dan fokus pada inti persoalan (abstraksi), siswa dilatih untuk mengatasi kompleksitas dalam kehidupan nyata, bukan hanya di depan komputer. Ini menjadikan CT lebih dari sekadar pelajaran teknis; ia adalah alat berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengambil keputusan, merencanakan, dan menyelesaikan berbagai tantangan, sehingga menciptakan generasi yang lebih terdaya dan inovatif di bidang apa pun yang mereka pilih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Finsensos Maria Seno
      Kelas: 5D PGSD
      Npm: 2386206090

      Izin menambahkan sedikit , saya setuju dengan pendapat Juliana bahwa Computational Thinking tidak hanya penting untuk dunia digital. Kemampuan ini juga sangat membantu siswa dalam berpikir kritis dan mengambil keputusan di kehidupan sehari-hari. Dengan dekomposisi dan abstraksi, siswa belajar menghadapi masalah yang kompleks secara bertahap. Hal ini membuat CT menjadi keterampilan penting untuk masa depan.

      Hapus
  48. Nama : Naida Dwi Nur Herlianawati
    Kelas : 5 B
    Npm : 2386206042

    setuju, materi ini sangat jelas dan efektif dalam menjelaskan bahwa computational thinking adalah keterampilan berpikir sehari-hari untuk memecah masalah kompleks menjadi empat pilar logis decomposition, pattern recognition, abstraction, dan algorithims yang menghasilkan solusi efisien, bukan sekedar memprogram.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Finsensos Maria Seno
      Kelas: 5D PGSD
      Npm: 2386206090

      Izin bertanya sekaligus menanggapi, saya setuju bahwa computational thinking bukan hanya tentang memprogram. Empat pilar seperti dekomposisi, pattern recognition, abstraksi, dan algoritma memang membantu menyelesaikan masalah secara efisien. Menurut Anda, pilar mana yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari? Materi ini membuat kita lebih memahami cara berpikir logis.

      Hapus
  49. Izin menanggapi pak Materi ini memberikan penjelasan yang sangat sistematis tentang konsep Computational Thinking dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan mengenai empat pilar utama decomposition, pattern recognition, abstraction, dan algorithms disampaikan dengan sangat sederhana sehingga mudah dipahami oleh pembaca yang bahkan belum pernah belajar pemrograman sekalipun. Analogi meja berkaki empat juga membantu memperkuat pemahaman bahwa semua pilar memiliki peran yang sama pentingnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lanjut Contoh penerapan dalam kehidupan nyata seperti merencanakan aktivitas bersama teman atau strategi dalam bermain video game membuat konsep yang awalnya terlihat teknis menjadi lebih dekat dengan pengalaman pembaca. Materi ini berhasil menunjukkan bahwa berpikir komputasional bukan sekadar kemampuan untuk memprogram, tetapi merupakan cara berpikir yang membantu kita menyederhanakan masalah kompleks dan menemukan solusi yang lebih efektif.Secara keseluruhan, materi ini informatif, mudah diikuti, dan sangat relevan untuk digunakan sebagai pengenalan dasar computational thinking baik di sekolah maupun pembelajaran mandiri.

      Hapus
    2. Nama: Finsensos Maria Seno
      Kelas: 5D PGSD
      Npm: 2386296090

      Izin menambahkan, saya sependapat bahwa penyampaian materi CT sudah sistematis dan mudah dipahami. Analogi yang digunakan sangat membantu pembaca memahami konsep empat pilar CT. Hal ini membuat materi terasa lebih dekat dengan kehidupan nyata. Dengan penjelasan sederhana, CT dapat dipelajari oleh siapa saja.

      Hapus
  50. NAMA : KORNELIA SUMIATY
    NPM : 2386206059
    KELAS : 5B PGSD

    computational thinking bukan sekadar memprogram, karena sering kali orang mengira keduanya sama. Contoh tentang merencanakan aktivitas dan bermain video game menunjukkan bahwa cara berpikir ini sebenarnya sudah kita lakukan tanpa disadari.
    Secara keseluruhan, materi ini membantu pembaca melihat bahwa kemampuan memecah masalah kompleks menjadi langkah-langkah yang lebih sederhana adalah keterampilan penting yang berguna di sekolah, pekerjaan, bahkan dalam kehidupan sehari-hari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Finsensos Maria Seno
      Kelas: 5D PGSD
      Npm: 2386206090

      Terimakasih Kornelia, Penjelasanmu tentang computational thinking bukan hanya pemrograman sangat tepat. Contoh merencanakan aktivitas dan bermain video game juga sangat relatable—mempermudah pemahaman bahwa pola pikir ini sudah kita terapkan secara tidak sadar. Setuju juga bahwa kemampuan memecah masalah kompleks menjadi langkah sederhana adalah keterampilan esensial untuk sekolah, kerja, dan kehidupan sehari-hari. 😊

      Hapus
  51. Nama: Maya Apriyani
    Npm: 2386206013
    Kelas: V.A

    Pada bacaan ini saya telah mengetahui apa itu computational thinking atau berpikir komputasi, ya itu di mana proses pemecahan masalah dengan memikirkan terlebih dahulu apa sih inti dari permasalahan ini setelah itu baru kita bisa mencari solusi secara bertahap untuk menyelesaikan permasalahan. Yang di mana mengajarkan kita untuk berpikir secara sistematis dan efisien.
    Dalam computational thinking ini ada empat pilar yang tentunya sangat penting yang pertama yaitu dekompetition, pattern recegnition, abstraction, dan algorithms.
    Nah ini merupakan tahap-tahapan berpikir komputasi, ada yang patah hati yang pertama itu kita harus memecahkan masalah menjadi bagian-bagian kecil agar mudah dipahami, selanjutnya kita menggunakan pola yang pernah kita gunakan pada permasalahan yang sebelumnya, lalu kita perlu melihat informasi yang terpenting dari permasalahan tersebut tidak terfokus kepada hal-hal yang tidak penting, kemudian kita menyusun langkah-langkah misalnya yang pertama itu apa lalu Apa selanjutnya secara sistematis agar teratur untuk menyelesaikan permasalahan.

    Dengan terus berlatih berpikir komputasi tentunya itu akan membantu kita untuk menganalisis, merencanakan, mengambil keputusan yang tepat.
    Terima kasih

    BalasHapus
  52. Nama: Maya Apriyani
    Npm: 2386206013
    Kelas: V.A

    Saya sangat setuju dengan diterapkannya CT kepada peserta didik karena dengan mereka berpikir secara komputasi pastinya mereka akan terbiasa untuk menyelesaikan tugas menyelesaikan permasalahan itu secara tersusun dan bertahap sehingga tentunya siswa akan memiliki pemahaman yang dalam dalam suatu pemecahan masalah, kemudian siswa juga pastinya bukan hanya menebak dari apa yang mereka hafalkan tetapi mereka merancang penyelesaian itu dari awal berdasarkan pemahaman mereka melalui empat pilar tadi, lalu dengan CT ini Tentunya membuat siswa untuk mempersiapkan diri menghadapi masalah di kehidupan sehari-hari yang di mana tentunya mereka dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan baik.

    Menurut saya dengan menerapkan ini tentunya akan berdampak baik terhadap guru, dan siswa itu sendiri.
    Dan itu akan sangat relevan dengan tuntutan kurikulum saat ini yang di mana tentunya siswa akan, membangun pengetahuan mereka sendiri tidak hanya terfokus kepada guru.
    Dengan CT ini juga tentunya siswa akan mengembangkan komunikasi mereka karena dalam CT ini mereka akan saling bekerja sama berkolaboratif dengan temannya.
    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sangat sependapat dengan Maya bahwa penerapan Computational Thinking (CT) sangat krusial dalam membantu siswa merancang solusi secara mandiri dan kolaboratif, yang pada akhirnya membekali mereka dengan kemampuan pemecahan masalah yang relevan untuk kehidupan sehari-hari maupun tuntutan kurikulum saat ini.

      Hapus
  53. Terima kasih bapak karena telah memberikan materi ini, setelah saya baca materi bapak tentang Mengenal Computational Thinking ini, saya langsung merasa kalau konsep ini ternyata dekat banget sama kehidupan kita sehari-hari. Saya awalnya kira berpikir komputasi itu harus selalu berhubungan dengan komputer atau bikin program yang rumit. Ternyata, intinya adalah cara kita memecahkan masalah besar jadi lebih gampang, dengan langkah-langkah yang teratur, sehingga solusi itu bisa dipakai siapa saja, termasuk oleh komputer. Contoh yang Bapak berikan tentang merencanakan rute ke tempat teman baru itu sangat sesuai. Saat kita cari rute tercepat, termurah, atau yang lewat tempat kita mau beli sesuatu, itu sudah proses thinking yang sistematis. Jadi, ini bukan sekadar urusan teknologi, tapi lebih ke kemampuan berpikir logis yang sangat berguna, bahkan buat calon guru seperti saya. Materinya langsung membuka pandangan kalau kemampuan ini sudah kita miliki, tinggal diasah lagi agar lebih tajam.

    BalasHapus
  54. Dimateri ini bapak juga membahas bagian empat pilar, saya merasa dua yang pertama, Dekomposisi ( memecah masalah ) dan Pengenalan Pola ( melihat kesamaan ), ini adalah dasar yang paling penting. Kalau kita dihadapkan pada masalah yang kelihatan membingungkan sekali, misalnya kayak tugas akhir yang segunung, kalau kita nggak bisa memecahnya jadi bagian-bagian kecil, pasti kita langsung berhenti dan bingung mau mulai dari mana. Dekomposisi ini jadi jurus ampuh biar kita bisa fokus satu per satu dan enggak panik. Terus, yang soal Pengenalan Pola itu juga bagus. Ini kayak kita belajar dari pengalaman masa lalu. Kalau kita pernah menyelesaikan masalah A dengan cara tertentu, dan sekarang muncul masalah yang mirip-mirip A, kita enggak perlu pusing lagi mikir dari awal. Tinggal pakai atau modifikasi solusi yang sudah ada. Ini sangat cepat menunjukkan kalau kita bisa jadi lebih pintar dengan memanfaatkan apa yang sudah pernah kita lalui. Jadi, dua pilar ini hal penting biar masalah besar jadi kecil dan enggak bikin kita buang-buang waktu.

    BalasHapus
  55. Dan say juga mau membahas materi bapak pada bagian dua pilar Abstraksi dan Algoritma. Kalau saya pahami, Abstraksi ini adalah proses memilih dan memilah mana informasi yang benar-benar penting dan mana yang cuma detail enggak cocok. Dalam dunia informasi yang serba ramai sekarang, kita harus bisa tahu mana fokus utama kita. Kalau semua informasi kita masukin, solusi kita nanti malah jadi ribet dan enggak jelas. Abstraksi ini bikin kita jadi lebih fokus pada inti masalahnya. Nah, setelah kita tahu inti masalahnya dan cuma ambil informasi yang penting, barulah kita buat Algoritma, yaitu langkah-langkah terperinci buat menyelesaikan masalah itu. Ini kayak bikin panduan atau resep yang jelas, harus dilakukan urut dari awal sampai akhir. Tanpa langkah yang jelas, solusi yang sudah kita pikirkan jadi berantakan. Jadi, keempat pilar ini yang dijelaskan di materi harus lengkap dan kuat semua biar masalahnya bisa terselesaikan dengan baik dan sistematis.

    BalasHapus
  56. Dan saya suka materi bapak yang membahas tentang penerapan Computational Thinking dalam praktik, terutama di contoh video game itu sangat membantu. Itu kan masalah sulit, tapi bisa diurai dengan empat langkah tadi. Mulai dari tahu musuh dan kelemahannya ( Abstraksi ), merancang strategi, dan lain-lain. Ini menunjukkan bahwa berpikir komputasi itu bukan hanya teori, tapi bisa banget dipakai untuk mengatur strategi di segala bidang, bahkan yang sifatnya hiburan sekalipun. Sebagai calon guru, saya melihat konsep ini sangat bagus untuk diajarkan kepada siswa, bukan dalam bentuk yang terlalu teknis, tapi sebagai cara berpikir supaya mereka bisa lebih terstruktur saat menghadapi soal atau masalah di masa depan. Kemampuan memecah masalah, mencari pola, fokus pada yang penting, dan membuat langkah solusi yang jelas itu pasti bermanfaat untuk mereka nanti. Terima kasih bapak sudah mau memberikn materi ini untuk kami, pak.

    BalasHapus
  57. Materi menjelaskan bahwa computational thinking membantu memecah masalah kompleks menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah diselesaikan. Ini membuat pembaca memahami bahwa keterampilan ini penting untuk meningkatkan kemampuan analisis dan pengambilan keputusan.
    Materi ini juga menegaskan bahwa berpikir komputasional bukan berarti memprogram. Ini membantu mengurangi kesalahpahaman bahwa hanya orang yang belajar coding yang membutuhkan computational thinking.

    BalasHapus
  58. ini mendorong siswa untuk berpikir lebih sistematis
    Computational thinking membantu siswa membangun pola berpikir terstruktur. Dengan memecah masalah menjadi bagian yang kecil dan berurutan, siswa jadi terbiasa menyelesaikan masalah tanpa bingung atau menyerah di awal.
    Dapat meningkatkan kreativitas dalam menemukan solusi
    Walaupun terdengar “logis”, computational thinking justru membuka ruang kreativitas. Dengan memahami pola dan membuat langkah-langkah solusi, siswa bisa merancang berbagai alternatif cara penyelesaian masalah sesuai imajinasi dan pemikirannya sendiri.

    BalasHapus
  59. Nama: Arjuna
    Kelas: 5A
    Npm: 2386206018
    computational thinking itu penting karena membantu kita menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih terstruktur. Dengan memecah masalah besar menjadi bagian kecil, mencari pola, dan fokus pada hal yang penting, kita jadi lebih mudah menemukan solusi

    BalasHapus
  60. Materi ini disajikan dengan sangat jelas dan runtut, sehingga mudah dipahami oleh pembaca dari berbagai latar belakang, termasuk pendidik dan peserta didik. Penjelasan diawali dari gambaran umum tentang peran komputer dalam menyelesaikan masalah, lalu diarahkan pada hal yang lebih mendasar, yaitu bagaimana cara manusia memahami masalah sebelum komputer dapat digunakan. Alur ini membantu pembaca memahami bahwa computational thinking bukanlah tentang teknologi semata, melainkan tentang cara berpikir.

    BalasHapus
  61. Penjelasan mengenai empat pilar computational thinking juga sangat membantu. Penggunaan istilah yang disertai padanan bahasa Indonesia membuat konsep yang terkesan “berat” menjadi lebih ramah. Analogi kaki meja untuk menjelaskan pentingnya keempat pilar sangat tepat karena menggambarkan bahwa setiap pilar saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan. Ini sangat cocok digunakan dalam konteks pembelajaran, terutama untuk siswa pemula.

    BalasHapus
  62. Nama : Erlynda Yuna NUrviah
    Kelas : VB PGSD
    Npm : 2386206035

    ini konsep yang menarik bagi saya karena cara berpikirnya mengikuti cara kerja komputer dalam memecahkan masalah, yaitu memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil, mengenali pola, lalu menyusunnya secara sistematis. Dari sudut pandang saya sebagai, calon guru, computational thinking terasa menantang sekaligus penting untuk dipelajari sejak awal. konsepnya mungkin rumit kalau kita belum terbiasa dengan cara pikirnya, tetapi justru itu yang membuat saya sadar bahwa sebagai calon guru kita harus belajar dan memahaminya terlebih dahulu sebelum mengarahkan siswa. Dengan memahami alurnya, kita tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga membantu siswa membangun cara berpikir yang logis, terstruktur, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi masalah.

    BalasHapus
  63. Nama: Ema yulianda
    Kelas : 5D pgsd
    Npm. : 2386206075

    Saya jadi tahu bahwa Computational Thinking (Berpikir Komputasi) adalah cara berpikir untuk menyelesaikan masalah secara logis dan terstruktur dengan memecah masalah, mengenali pola, mengambil inti masalah, dan menyusun langkah-langkah penyelesaian. Berpikir komputasi sangat bermanfaat, tidak hanya dalam pemrograman, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

    BalasHapus
  64. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, penerapan computational thinking juga terlihat dalam aktivitas bermain video game. Pemain menganalisis tantangan dan sumber daya yang tersedia. Pemain menyusun strategi berdasarkan pola dan pengalaman sebelumnya. Proses ini melibatkan dekomposisi, abstraksi, dan perancangan algoritma. Guru dapat memanfaatkan contoh ini untuk menarik minat siswa. Pendekatan ini membantu siswa belajar sambil mengaitkan dengan dunia mereka. Dengan demikian, computational thinking dapat diajarkan secara menyenangkan dan efektif.

    BalasHapus
  65. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, empat pilar computational thinking memiliki peran yang saling melengkapi. Decomposition membantu memecah masalah besar menjadi bagian kecil. Pattern recognition memungkinkan seseorang menemukan kesamaan dari masalah sebelumnya. Abstraction menuntun seseorang fokus pada informasi yang paling relevan. Algorithms membantu menyusun langkah-langkah penyelesaian secara runtut. Guru menjelaskan keempat pilar ini sebagai satu kesatuan yang utuh. Tanpa salah satu pilar, proses pemecahan masalah menjadi kurang optimal.

    BalasHapus
  66. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, computational thinking tidak selalu identik dengan kegiatan pemrograman. Pendekatan ini lebih menekankan cara berpikir dalam menentukan solusi. Seseorang merancang rencana sebelum memberikan instruksi kepada komputer. Proses berpikir ini terjadi sebelum aktivitas pemrograman dilakukan. Guru membantu siswa memahami perbedaan antara berpikir komputasional dan memprogram. Contoh perencanaan rute perjalanan menggambarkan konsep ini dengan jelas. Dengan cara ini, siswa lebih mudah memahami makna computational thinking.

    BalasHapus
  67. Nama: Lidia Jaimun
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206091

    Izin menanggapi Pak, computational thinking sangat relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang menggunakan pendekatan ini saat merencanakan aktivitas bersama teman. Individu mempertimbangkan berbagai faktor sebelum mengambil keputusan. Proses tersebut melibatkan pemilahan informasi dan penentuan prioritas. Guru dapat menggunakan contoh sederhana agar siswa mudah memahami konsepnya. Pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna bagi siswa. Hal ini menunjukkan bahwa computational thinking bukan konsep abstrak semata.

    BalasHapus
  68. Nama: Hizkia Thiofany
    Kelas: V A
    Npm: 2386206001

    Pembelajaran komputasi sangat penting dalam pembelajaran matematika mengasah kemampuan berpikir siswa dalam mengerjakan soal tersebut secara kognitif di sini mengajarkan mereka untuk berfikir secara logis dan kemandirian selain itu guru juga bisa mengaitkan pengalaman mereka dalam pembelajaran tersebut.

    BalasHapus
  69. Nama: Andi Nurfika
    NPM: 2386206017
    Kelas: VB PGSD

    Izin menjawab ya, jadi menurut saya ini bukan cuman tentang sistem atau guru, tapi gabungan dari keduanya. Dari sistem pendidikan kita lama terbiasa menilai hasil cepat lewat angka, jadi hafalan terasa lebih aman dan mudah diukur titik guru juga sering terkejar target kurikulum dari dan waktu akhirnya tugas yang itu-itu lagi jadi pilihan praktis. Padahal berpikir kritis memang butuh ruang untuk salah, diskusi, dan mencoba berbagai cara. Jadi sebenarnya sistem sedang berproses berubah dan kita masih belajar membiasakan budaya berpikir yang lebih terbuka.

    BalasHapus
  70. Nama : Alya Salsabila
    Npm : 2386206062
    Kelas : V C
    materinya menarik sekali pak, jadi makin paham kalau berpikir komputasi itu bukan cuma soal komputer atau ngoding aja. Intinya kita diajarin cara memecah masalah jadi bagian kecil, cari pola, fokus ke hal penting, lalu buat langkah-langkah yang teratur untuk nyelesainnya

    BalasHapus
  71. Nama : Alya Salsabila
    Npm : 2386206062
    Kelas : V C

    izin bertanya ya pak, bagaimana cara guru menilai apakah siswa sudah mulai terbiasa berpikir secara komputasi? terimakasih

    BalasHapus
  72. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi, Pak. Materi ini menurut saya menjelaskan computational thinking dengan cara yang sederhana tapi kena. Penjelasan tentang memecah masalah besar menjadi bagian kecil membuat saya sadar bahwa sebenarnya pola pikir ini sering kita pakai sehari-hari, hanya saja kita tidak menyebutnya dengan istilah khusus. Contoh merencanakan pertemuan dengan teman terasa sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa, jadi konsepnya tidak terasa berat. Dari sini saya jadi paham bahwa computational thinking bukan sesuatu yang eksklusif untuk anak IT, tapi keterampilan hidup yang bisa diasah oleh siapa saja.

    BalasHapus
  73. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Saya setuju nih, Pak. bahwa empat pilar computational thinking saling berkaitan dan tidak bisa berdiri sendiri. Analogi meja berkaki empat menurut saya pas sekali karena mudah dibayangkan. Selama ini saya sering fokus pada solusi akhir tanpa sadar bahwa proses seperti mengenali pola dan memilah informasi penting itu justru bagian terpentingnya. Materi ini membuat saya refleksi bahwa saat kita bingung menyelesaikan masalah, mungkin bukan karena masalahnya terlalu sulit, tapi karena kita belum memecahnya dengan cara yang tepat.

    BalasHapus
  74. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi lagi, Pak. Menurut saya materi di atas sangat membantu dalam membedakan antara computational thinking dan memprogram. Selama ini saya pribadi sering mengira keduanya adalah hal yang sama. Penjelasan bahwa computational thinking adalah menentukan apa yang perlu disampaikan ke komputer, sementara memprogram adalah cara menyampaikannya, terasa membuka pola pikir baru. Dengan pemahaman ini, saya jadi melihat bahwa berpikir komputasional bisa dilatih bahkan tanpa harus duduk di depan komputer.

    BalasHapus
  75. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin curhat sedikit yaa, Pak. Saya merasa contoh bermain video game itu menarik karena dekat dengan kebiasaan banyak mahasiswa. Biasanya bermain game dianggap hanya hiburan, tapi lewat materi ini justru terlihat bahwa di dalamnya ada proses berpikir yang cukup kompleks. Mulai dari menyusun strategi, mengenali pola musuh, sampai memilih langkah paling efisien. Dari sini saya jadi sadar bahwa banyak aktivitas sehari-hari yang sebenarnya sudah melatih computational thinking tanpa kita sadari.

    BalasHapus
  76. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin memberikan saran dari saya, Pak. Materi seperti ini sangat cocok jika dikaitkan dengan lebih banyak contoh kontekstual di kehidupan nyata. Penjelasan tentang perencanaan aktivitas bersama teman menunjukkan bahwa computational thinking tidak selalu rumit dan bisa dipahami semua kalangan. Dengan pendekatan seperti ini, saya rasa siswa atau mahasiswa tidak akan takut duluan dengan istilahnya. Justru mereka bisa merasa, “oh, ternyata saya sudah sering melakukan ini,” dan itu membuat proses belajar jadi lebih percaya diri.

    BalasHapus
  77. Nama : Ninda Amelia Saputri
    NPM : 2386206093
    Kelas : 5D PGSD

    Izin menanggapi, Pak. Materi ini membuat saya semakin paham bahwa computational thinking sebenarnya sangat dekat dengan aktivitas sehari-hari, tidak hanya saat berhadapan dengan komputer atau pemrograman. Penjelasan tentang empat pilar, terutama dekomposisi dan abstraksi, terasa relevan karena sering kita lakukan tanpa sadar ketika merencanakan sesuatu atau mengambil keputusan. Dengan pendekatan seperti ini, konsep yang awalnya terkesan teknis menjadi lebih mudah dipahami dan aplikatif. Pertanyaan saya, Pak, bagaimana strategi yang paling efektif untuk mulai menanamkan pola pikir computational thinking ini kepada siswa yang sama sekali belum familiar dengan teknologi?

    BalasHapus
  78. Artikel ini menegaskan bahwa computational thinking bukan sekadar keterampilan teknis untuk memprogram komputer, melainkan cara berpikir yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Contoh perencanaan rute untuk bertemu teman menunjukkan bahwa tanpa disadari, setiap orang telah menerapkan berpikir komputasional dalam pengambilan keputusan.

    Hal ini memperkuat pandangan bahwa computational thinking adalah keterampilan hidup (life skill) yang penting, karena membantu individu berpikir lebih sistematis, rasional, dan efisien dalam menghadapi berbagai situasi kompleks.

    BalasHapus
  79. Penjelasan mengenai empat pilar computational thinking, decomposition, pattern recognition, abstraction, dan algorithms yang disampaikan dengan jelas dan saling terhubung. Analogi meja berkaki empat sangat membantu pembaca memahami bahwa setiap pilar memiliki peran yang sama penting. Tanpa salah satu pilar tersebut, proses pemecahan masalah menjadi timpang. Artikel ini berhasil menunjukkan bahwa pemecahan masalah yang efektif membutuhkan keseimbangan antara semua teknik berpikir tersebut.

    BalasHapus
  80. Artikel ini memberikan pemahaman yang tepat bahwa computational thinking tidak sama dengan pemrograman. Banyak orang masih menganggap berpikir komputasional identik dengan menulis kode, padahal esensinya terletak pada proses berpikir sebelum pemrograman dilakukan. Dengan menekankan bahwa computational thinking membantu menentukan apa yang harus disampaikan kepada komputer, artikel ini membantu meluruskan miskonsepsi umum dan menjadikan konsep ini lebih mudah dipahami oleh pemula.

    BalasHapus
  81. Contoh penerapan computational thinking dalam merencanakan aktivitas bersama teman dan bermain video game sangat relevan dengan pengalaman pembaca, terutama generasi muda. Contoh-contoh tersebut membuktikan bahwa computational thinking dapat diterapkan di berbagai konteks, baik sosial maupun hiburan. Pendekatan ini membuat konsep yang awalnya abstrak menjadi konk n mudah dipahami, sehingga meningkatkan ketertarikan pembaca terhadap topik ini.

    BalasHapus
  82. Artikel ini menunjukkan bahwa computational thinking merupakan keterampilan penting untuk dikembangkan dalam dunia pendidikan. Kemampuan memecah masalah, mengenali pola, menyaring informasi penting, dan menyusun langkah sistematis sangat dibutuhkan di era digital. Dengan membiasakan berpikir komputasional sejak dini, peserta didik akan lebih siap menghadapi tantangan masa depan, baik dalam bidang teknologi maupun dalam kehidupan sehari-hari.

    BalasHapus
  83. Terimakasih pak ,artikel ini memberikan penjelasan yang sangat jelas dan mudah dipahami mengenai pentingnya computational thinking sebagai landasan untuk memecahkan masalah kompleks di era digital saat ini.

    BalasHapus
  84. Menurut saya penjelasan mengenai pilar Dekomposisi dalam teks tersebut sangat relevan, karena membagi masalah besar menjadi bagian-bagian kecil memang merupakan langkah awal yang paling krusial agar solusi yang dihasilkan lebih terstruktur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rosidah
      Npm: 2386206034
      Kelas: 5 B

      Hallo Kak Elsiana, aku setuju dengan pandangan kakak tentang materi ini

      memang dekomposisi memang menjadi langkah awal yang penting karena membantu kita melihat masalah dengan jelas. ini ada tambahan dari aku kak harapan nya bisa menambah ilmu kita tentang materi ini, disini dekomposisi juga bikin kita lebih fokus dan nggk gampang kewalahan, karena perhatian kia diarahkan ke satu bagian kecil dulu, bukan langsung ke masalah besarnya. kalo cara berpikir ini dibiasakan, kita jadi lebih terlatih menyelesaikan masalah secara bertahap dan realistis. nah ini sesuai dengan konsep computational thinking, dimana solusi yang baik bukan yang cepat, tapi yang susun dengan langkah yang jelas dan masuk akal.

      tapi saya sedikit bingung nie kak, mungkin kakak dan teman-teman yang membaca mau berdiskusi bersama saya terkait, kira-kira kita kan sebagai calon guru nie, menurut kakak atau teman-teman kegiatan sederhana apa ya yang bisa kita lakukan nanti untuk melatih kemampuan dekomposisi ini pada siswa SD?
      buat nambah ilmu persiapan kita KKN/PKL nanti hehehe

      Hapus
  85. Sangat menarik melihat bagaimana computational thinking tidak hanya ditujukan untuk komputer, tetapi juga sebagai metode berpikir bagi manusia untuk merancang solusi yang efisien dan dapat diterapkan di berbagai bidang kehidupan.

    BalasHapus
  86. Setuju sekali dengan artikel ini, Pak. Penjelasan mengenai computational thinking di sini sangat mencerahkan, terutama poin bahwa kemampuan ini tidak harus selalu berhubungan dengan perangkat komputer, melainkan tentang bagaimana kita melatih logika berpikir siswa. Dengan menerapkan metode seperti dekomposisi dan pengenalan pola, siswa akan jauh lebih siap dalam menghadapi masalah kompleks di kehidupan nyata.

    BalasHapus
  87. Nama Hanifah
    Kelas 5C
    NPM 2386206073

    Materi ini sangat jelas menjelaskan empat pilar utama computational thinking: dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma. Analogi meja berkaki empat menurut saya sangat tepat, karena menunjukkan bahwa semua pilar sama pentingnya dan saling melengkapi. Penjelasan ini membuat saya sadar bahwa berpikir komputasi bukan hanya soal teknologi tetapi tentang bagaimana kita menyusun langkah-langkah logis untuk menyelesaikan masalah sehari-hari. Artikel ini membantu saya melihat bahwa CT adalah keterampilan dasar yang bisa diterapkan di berbagai bidang, bukan hanya pemrograman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Rosidah
      Npm: 2386206034
      Kelas: 5 B

      Saya setuju dengan padangan dari kak Hanifah, apalagi soal empat pilar yang saling melengkapi, mungkin ada tambahan dari saya kak, kalo computational thinking itu bukan cuma buat nyelesaikan masalah, tapi juga buat ngambil keputusan. dengan CT, jadi kita terbiasa mikir sebelum bertindak, bukan asal coba-coba hehe, jadi kan kayak misalnya saat dihadapkan pada beberapa pilihan, kita belajar nie menimbang mana yang paling masuk akal dan efisien. dengan ini sejalan dengan konsep algoritma dalam CT, dimana setiap langkah dipikirkan supaya hasilnya lebih efektif. jadi kalau pola pikir ini di biasakan ke siswa, mereka akan lebih terlatih berpikir matang dan nggk mudah bingung saat menghadaapi situasi baru.
      semoga tanggapan saya bermanfaat untuk kakak dan teman-teman yang membacanya.

      Hapus
  88. Nama: Rosidah
    Npm: 2386206034
    Kelas: 5 B

    Kembali saya buka laman ini, untuk lebih memperdalam isi dari materi ini, materi tentang computational thinking ini sangat membantu dalam menyelesaikan masalah yang komplek, jadi bagus untuk dipelajari, di sini materi ini mengajarkan kita untuk tidak langsung bingung ketika ada masalah, tapi kita harus memecahkan masalah tersebut menjadi bagian-bagian kecil agar mudah kita pahami. dengan cara begitu, kita bisa melihat inti dari permasalahannya dan bisa menentukan langkah penyelesaiannya secara terarah. maka itu kita harus belajar berpikir secara komputasional di mana kita dilatih untuk mencari pola, fokus pada informasi yang penting, dan menyususn langkah-langkah yang runtut.

    BalasHapus
  89. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Terimakasih atas materinya pak, karena dari materi ini saya jadi tau. ternyata computational thinking itu bukan berarti kita harus jadi robot atau jago coding dulu. intinya tuh gimana cara kita buat ngakalin masalah yang susah jadi lebih gampang. contohnya seperti lagi mau nongkrong bareng temen tapi selera makannya berbeda-beda, nah di situ kita sebenarnya sudah memakai teknik ini buat cari jalan tengahnya.

    BalasHapus
  90. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Izin menanggapi menurut saya materi ini menarik banget karena menjelaskan kalau cara berpikir komputasional itu bukan berarti kita harus jadi robot atau jago coding saya setuju kalau poin utamanya adalah gimana kita bisa paham masalah yang susah dulu sebelum cari solusinya keren sih ternyata kemampuan ini sebenarnya sudah kita pakai tiap hari buat menyederhanakan masalah yang kelihatannya ribet jadi lebih gampang dipahami.

    BalasHapus
  91. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Izin menanggapi menurut saya keempat pilar tadi emang penting banget buat dipelajari saya setuju kalau keempatnya itu kayak kaki meja yang nggak boleh hilang salah satu kita belajar bagi-bagi masalah jadi kecil cari kesamaan pola fokus ke hal yang penting saja sampai bikin langkah-langkah buat menyelesaikannya kalau cara ini dipakai mau bikin program komputer atau ngerjain tugas apa pun pasti jadi lebih rapi dan efisien.

    BalasHapus
  92. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Izin menanggapi menurut saya contoh yang dikasih soal main game atau janjian sama teman itu masuk akal banget sya setuju kalau kita sebenarnya sudah pakai cara berpikir ini tanpa sadar pas mau main game kita pasti mikir dulu kan strategi paling cepat lewat mana dan musuhnya gimana itu sudah termasuk berpikir komputasional jadi cara berpikir ini nggak cuma buat orang komputer saja tapi berguna buat siapa saja biar bisa ambil keputusan yang lebih oke.

    BalasHapus
  93. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Izin menanggapi menurut saya cara berpikir ini kalau diajarkan di sekolah bakal membantu banget buat siswa saya setuju kalau masalah pelajaran yang susah seringkali bikin bingung karena terlalu kompleks tapi kalau pakai teknik dekomposisi buat memecah tugas besar jadi tugas-tugas kecil rasanya belajar jadi nggak terlalu berat jadi kita nggak cuma disuruh menghafal tapi benar-benar belajar cara cari solusi yang sistematis.

    BalasHapus
  94. Nama : Muhammad Nur Fauzi
    Kelas : 5A PGSD
    NPM : 2386206003

    Izin menanggapi menurut saya cara berpikir ini adalah kunci supaya kita nggak gampang stres atau panik duluan saat ada masalah gede saya setuju kalau dengan membagi masalah jadi bagian-bagian kecil beban pikiran kita jadi terasa lebih ringan jadi kita nggak melihat masalah itu sebagai satu gunung yang besar tapi cuma sebagai tumpukan kerikil yang bisa kita pindahkan satu per satu sampai selesai.

    BalasHapus
  95. nama: Sitti Fatimatus Zehroh
    npm: 2386206020
    semester: 5A

    baik sebelumnya izin menanggapi, dari pembahasan kali ini yang dapat saya simpulkan yaitu, computational thinking itu cara berpikir untuk memahami dan menyelesaikan masalah yang rumit supaya jadi lebih sederhana dan teratur, yaitu bisa dengan cara memecah masalah, mencari pola dari pengalaman sebelumnya, lalu fokus ke hal yang penting saja, juga menyusun langkah-langkah penyelesaiannya. Cara berpikir seperti ini menurut saya juga sebenarnya sudah sering kita pakai dalam kehidupan sehari-hari contohnya seperti saat merencanakan atau menyusun suatu kegiatan.

    BalasHapus
  96. nama: Sitti Fatimatus Zehroh
    npm: 2386206020
    semester: 5A

    Izin menanggapi kembali, pada penjelasan bagian empat pilar computational thinking ini, menurut saya sangat menarik, karena disini empat pilar ini saling terhubung satu sama lain juga sama pentingnya, bukan yang harus di pilih salah satu, karena menurut saya memang masing-masing dari keempat pilar ini saling melengkapi dalam proses pemahaman dan menyelesaikan masalah, kalau hanya memakai satu, hasilnya belum tentu utuh atau sempurna. Pada bagian Decomposition membantu kita memecah masalah besar supaya tidak terasa rumit, kalau di pattern recognition membantu kita melihat kesamaan dari masalah yang pernah ada, jadi kita tidak mulai dari nol, sedangkan abstraction membuat kita fokus ke hal yang benar-benar penting dan mengabaikan detail yang tidak perlu, dan algorithms berfungsi sebagai langkah-langkah penyelesaian.
    Jadi menurut saya keempat pilar ini seperti satu alur berpikir yang saling menyambung.

    BalasHapus
  97. nama: Sitti Fatimatus Zehroh
    npm: 2386206020
    semester: 5A

    Izin menambahkan sedikit, menurut saya competitional thinking juga merupakan keterampilan hidup yang membantu kita berpikir lebih terstruktur dan efisien, juga bagaimana kita menyampaikan masalah dan solusi dengan cara yang jelas baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

    BalasHapus
  98. nama: Sitti Fatimatus Zehroh
    npm: 2386206020
    semester: 5A

    dari yang saya baca tentang empat pilar ini, menurut saya ternyata saya sering melakukan kegiatan yang sesuai dengan empat pilar ini dalam kehidupan sehari-hari tanpa saya sadari, misal contohnya saat saya ingin menyusun jadwal kegiatan harian, menyiapkan bekal, menyusun rencana perjalanan, juga dengan mengatur keuangan bulanan. dengan cara kita berfikir komputasi ini membantu kita jadi lebih teratur, hemat waktu, dan tidak mudah bingung saat menghadapi banyak pilihan.

    BalasHapus
  99. Hanifah
    5C
    2386206073

    Materi ini mengingatkan bahwa computational thinking bukan hanya untuk programmer, tapi juga siapa saja yang ingin berpikir lebih terstruktur. Dengan CT, siswa belajar memecahkan masalah besar menjadi bagian kecil, lalu mencari solusi yang lebih sederhana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengan kemampuan ini siswa tidak hanya mampu memahami teknologi, tapi juga siapa menghadapi tantangan kompleks di dunia nyata. Guru yang menanamkan CT sedangan membekali generasi muda dengan cara berpikir kritis, logis, dan inovatif yang akan berguna sepanjang hidup.

      Hapus
    2. Computational thinking terdiri dari empat elemen utama yaitu dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma. Materi ini menekankan bahwa penerapan CT dalam pendidikan tidak hanya meningkatkan kemampuan problem solving, tapi juga melatih siswa untuk berpikir kritis dan sistematis. Hal ini penting agar kurikulum tidak hanya fokus pada hafalan tapi juga pada keterampilan berpikir yang relevan dengan era digital.

      Hapus
  100. 2386206060 (5B)
    cerita yang Mengenal Computational Thinking ini menarik karena ngebahas cara berpikir yang sebenarnya dekat banget sama kehidupan kita sehari-hari, tapi sering nggak kita sadari. ceritanya jadi nggak langsung berat ke teori, tapi pelan-pelan ngajak pembaca paham bahwa computational thinking itu bukan cuma soal komputer atau coding. Justru yang bikin menarik, kita jadi sadar kalau selama ini kita sudah sering pakai cara berpikir ini, misalnya pas nyusun rencana, nyelesain masalah, atau ngambil keputusan sederhana. Bahasanya juga nggak kaku, jadi enak dibaca dan nggak bikin capek. Selain itu, contoh yang dipakai bikin materinya terasa nyata dan relevan, baik buat guru, siswa, maupun orang biasa. cerita ini jadi membuka wawasan kalau belajar itu bukan cuma soal hafalan, tapi soal bagaimana cara kita berpikir dan menghadapi masalah di dunia nyata.

    BalasHapus
  101. 2386206060(5B)
    untuk penyampaiannya yang bikin kita mikir ulang tentang kebiasaan belajar selama ini. jdi ceritanya seolah ngajak ngobrol santai, tapi isinya dalam. Kita jadi sadar kalau banyak masalah di sekolah atau kehidupan sehari-hari sebenarnya bisa diselesaikan lebih mudah kalau kita terbiasa berpikir runtut dan terstruktur, cerita ini nggak menggurui, tapi justru membuka sudut pandang baru bahwa kesalahan itu wajar dan bagian dari proses berpikir. Buat pembaca, terutama guru dan calon guru, cerita ini terasa relevan banget karena bisa langsung dibayangin penerapannya di kelas. Jadi bukan cuma informatif, tapi juga bikin pengen nyoba menerapkan cara berpikir ini di kehidupan yg nyata.

    BalasHapus
  102. 2386206060
    pengertian computational thinking ini menurutku penting banget, karena langsung meluruskan kesalahpahaman yang sering terjadian banyak orang masih mikir CT itu cuma soal komputer atau coding, padahal sebenarnya ini soal cara berpikir. di dunia nyata, kita tiap hari pakai CT tanpa sadar, misalnya pas ngatur jadwal, nyelesain masalah, atau bikin keputusan, pengertian ini bikin kita sadar bahwa CT bukan hal asing, cuma selama ini belum dikasih nama aja. Mungkin kalau dijelasin ke siswa dengan contoh sehari hari, mereka bakal lebih mudah paham dan nggak merasa ini sesuatu yang berat.

    BalasHapus
  103. cerita ini supaya cara berpikir computational thinking mulai dibiasakan sejak dini, bukan cuma dikenalkan sebagai teori. di sekolah, guru bisa pelan melatih siswa untuk memecah masalah, mengenali pola, dan menyusun langkah penyelesaian tanpa harus selalu pakai komputer. sebaiknya lebih sering diajak mikir prosesnya, bukan langsung dituntut jawaban benar. Selain itu, pembelajaran juga sebaiknya memberi ruang buat anak mencoba dan salah, karena dari situlah pola berpikir mereka terbentuk. Kalau kebiasaan ini diterapkan secara konsisten, bukan cuma di pelajaran tertentu tapi di berbagai aktivitas, siswa akan lebih siap menghadapi masalah di sekolah maupun di kehidupan sehari-hari.

    BalasHapus
  104. cerita Mengenal Computational Thinking ini sudah keren dari isi, tapi bisa dibuat lebih membumi lagi supaya makin kena ke pembaca.nah ditambah cerita singkat tentang pengalaman nyata di kelas atau situasi yang sering terjadi di sekolah, jadi pembaca merasa “oh ini pernah aku alami juga”. Selain itu, mungkin bisa diperjelas langkah-langkah sederhana yang bisa langsung dicoba guru atau orang tua tanpa harus merasa terbebani. Dengan begitu, ceritanya nggak cuma berhenti di pemahaman konsep, tapi juga mendorong pembaca buat langsung praktik. Secara umum, tulisan ini sudah relevan dan membuka pola pikir, tinggal dipoles sedikit biar dampaknya makin terasa.

    BalasHapus
  105. di pembahasan empat pilar CT (dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma) ini menurutku inti dari seluruh materi. kenapa? karna anak sering langsung disuruh nyelesain soal tanpa diajarin cara memecah masalahnya Padahal pilar-pilar ini ngajarin anak berpikir pelan-pelan dan runtut. Di dunia nyata juga sama, masalah besar itu jarang bisa selesai sekali jalan,jdi kalau guru konsisten pakai empat pilar ini di berbagai pelajaran, anak bakal lebih terlatih mikir logis dan nggak gampang panik saat ketemu masalah baru.

    BalasHapus
  106. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Saya izin bertanya pak, saya membayangkan kalau saya ingin membuat acara ulang tahun besar-besaran tapi bingung mulai dari mana. nah, kalau menggunakan teknik Dekomposisi ini. menurut bapak, langkah pertama apa yang akan bapak lakukan agar tidak bingung atau pusing?

    BalasHapus
  107. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Saya izin bertanya lagi pak, apa bedanya antara berpikir cara cepat untuk menang dalam bermain game sama ketika kita benar-benar menggerakkan karakter di game itu? mana yang disebut Computational Thinking dan mana yang disebut memprogram?

    BalasHapus
  108. Nama: Selma Alsayanti Mariam
    Npm: 2386206038
    Kelas: VC

    Saya izin bertanya kembali pak, pada materi ini disebutkan kalau empat pilar itu seperti kaki meja. kalau misalnya saya pintar sekali membagi-bagi masalah (Dekomposisi) tetapi tidak bisa membuat langkah-langkah penyelesaiannya (Algoritma), kira-kira solusinya bakal jalan tidak? kenapa?

    BalasHapus
  109. Nama: Finsensos Maria Seno
    Kelas: 5D PGSD
    Npm: 2386206090

    Dekomposisi adalah cara memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil. Tujuannya agar masalah lebih mudah dipahami dan diselesaikan. Dengan membagi masalah, kita bisa fokus menyelesaikan satu bagian terlebih dahulu. Cara ini sering digunakan dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari.

    BalasHapus
  110. Nama: Leoni Wulandari
    Kelas: 5D
    NPM: 2386206088
    Menurut saya, computational thinking merupakan cara berpikir yang sangat penting karena membantu kita memahami masalah sebelum mencari solusi. Artikel ini menjelaskan bahwa berpikir komputasi tidak selalu berhubungan dengan komputer, tetapi lebih kepada cara kita menganalisis dan menyusun langkah-langkah penyelesaian masalah secara logis.

    BalasHapus
  111. Nama: Leoni Wulandari
    Kelas: 5D
    NPM: 2386206088
    Menurut saya, empat pilar computational thinking sangat mudah dipahami karena dijelaskan dengan perumpamaan yang sederhana. Dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan agar solusi yang dihasilkan benar-benar efektif.

    BalasHapus
  112. Nama: Leoni Wulandari
    Kelas: 5D
    NPM: 2386206088
    Menurut saya, penjelasan tentang perbedaan antara berpikir komputasional dan memprogram sangat membantu. Berpikir komputasional membantu kita menentukan apa yang harus dilakukan, sedangkan memprogram adalah cara menjalankan perintah tersebut. Hal ini membuat konsep computational thinking lebih mudah dipahami oleh siswa.

    BalasHapus
  113. Nama: Leoni Wulandari
    Kelas: 5D
    NPM: 2386206088
    Menurut saya, contoh penerapan computational thinking dalam kehidupan sehari-hari, seperti merencanakan kegiatan bersama teman, sangat relevan. Contoh ini menunjukkan bahwa berpikir komputasi sebenarnya sudah sering kita lakukan tanpa disadari, terutama saat mengambil keputusan yang melibatkan banyak pertimbangan.

    BalasHapus
  114. Nama: Leoni Wulandari
    Kelas: 5D
    NPM: 2386206088
    Menurut saya, penerapan computational thinking dalam permainan video game menunjukkan bahwa keterampilan ini bisa dikembangkan dengan cara yang menyenangkan. Dengan memecah masalah, mengenali pola, dan menyusun strategi, siswa dapat belajar berpikir sistematis sambil bermain.

    BalasHapus
  115. Nama : Shela Mayangsari
    Npm : 2386206056
    Kelas : V C

    Materi ini berhasil menjelaskan computational thinking dengan cara yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, jadi nggak terasa berat sama sekali. Penjelasan tentang empat pilar terasa jelas dan masuk akal, apalagi dianalogikan seperti kaki meja yang saling menopang. Contoh-contoh praktisnya, mulai dari merencanakan jalan bareng teman sampai bermain game, bikin pembaca sadar kalau sebenarnya kita sudah sering berpikir komputasional tanpa disadari. Materi ini juga cocok banget buat pembaca awam karena membuka pemahaman bahwa computational thinking bukan cuma soal coding, tapi soal cara berpikir yang rapi dan terstruktur.

    BalasHapus
  116. Nama: Hizkia Thiofany
    Kelas: V A
    Npm: 2386206001

    Jadi dalam pembelajaran berpikir secara komputasi dengan metode kehidupan sehari Hari jadi guru menjelaskan pembelajaran kepada siswa di mana guru menjelaskan tentang kehidupan di lingkungan sekitar jadi dapat mengetahui tentang lingkungan sekitar.

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak